Thursday | May 31, 2007

UMAT MANUSIA VS MUHAMAD BIN ABDULLAH

Diambil dari http://www.indonesia.faithfreedom.org

UMAT MANUSIA VS MUHAMAD BIN ABDULLAH

Diterjemahkan bersama2 dengan CHESSMANIAC

Terdiri dari:
PEMBUKAAN/PREAMBLE
Bagian I Pembunuhan
Bagian II Agama & Moralitas
Bagian III Perkosaan 1
Bagian IV Perkosaan 2
Bagian V Perkosaan 3
Bagian VI Pedophil
Bagian VII Tidak santun & tidak bermoral
Bagian VIII Membenci wanita

---------------------------------------------------------------------- -------------
Inilah sidang pengadilan yang telah lama tertunda mengenai Islam dan dihadiri oleh :

Tertuduh/terdakwa : Muhammad bin Abdallah
Diwakili oleh : Pembela, Raheel Shahzad

Pendakwa : Umat Manusia (dari pihak non-Muslim)
diwakili oleh : Jaksa Penuntut, Ali Sina

Sidang pengadilan : Opini masyarakat umum

Jury/Hakim : Anda sekalian, pembaca FFI.

---------------------------------------------------------------------- --------------

PEMBUKAAN/PREAMBLE
DARI RAHEEL SHAHZAD,
15 November 2003

Yth Mr Sina,
Secara kebetulan saya menemukan alamat website anda kurang lebih 2 bulan yang lalu. Saya sudah membaca sebagian besar artikel di website anda. Dan saya mengakui kagum dengan kemampuan intelektual anda.

Singkat cerita mengenai saya: Saya berumur 33 tahun, keturunan Pakistan, tinggal di USA selama kurang lebih 12 tahun. Sebelumnya, saya tinggal di Timur Tengah selama 20 tahun dan dilahirkan di Karachi, Pakistan. Dua tiga bulan terakhir, saya mempunyai keinginan untuk mengetahui lebih detail tentang masalah keimanan. Saya menganggap diri saya muslim karena orang tua saya muslim. Saya lulus gelar Masters Degree in Bussiness dan memiliki usaha sendiri. Saya sudah menikah selama 6 tahun dan belum mempunyai anak.

Dua alasan dari email saya:
1 Untuk memastikan apakah anda sungguh-sungguh dalam menerima
jawaban yang berlawanan dengan pandangan anda;
2 Untuk berdebat secara intelek.

Saya mengerti tema umum dalam tulisan anda yang pada dasarnya mengenai :
a) Kenyataan sejarah Islam yang ternodai (berisi kesalahan).
b) Pembela Islam takut memperlihatkan kenyataan sebenarnya.
c) Islam merupakan ideologi penuh kekerasan yang berdasarkan
kenyataan iman pada jaman Muhamad.
d) Penguasa/pemerintahan Islam penuh korupsi karena ideologi mereka
yang salah.
e) Nabi Muhammad tidak patut dijadikan pendoman karena moralnya
jauh dari apa yang diharapkan, hal yang diketahui secara luas oleh
para kalangan akademis.
f) Allah (atau Tuhan) hanya imajinasi yang dibuat-buat dan
g) Muslim pada umumnya sudah dijejali kebencian terhadap agama lain
berdasarkan ajaran yang salah oleh kalangan akademik islam.

Tujuan saya untuk melakukan debat adalah untuk menghasilkan 3 hal :

A) Untuk membuktikan bahwa pendapat anda tidak berdasarkan nilai
intelek.

B) Bukti-bukti yang disampaikan mungkin benar adanya dan mungkin
juga agak kabur namun seorang muslim moderat bisa mengerti dan
menanggapi dengan semangat yang sama.

C) Memberikan anda kesempatan untuk mempertimbangkan kembali
pendapat anda baik yang secara sengaja atau tidak.

Mungkin, setelah berdebat, anda bisa mempertimbangkan kembali keyakinan anda, malah mungkin anda bisa menyalurkan frustasi anda secara lebih berarti mengenai hal iman. Anda tidak perlu menghilangkan website anda.

Saya berharap ini akan merupakan debat yang bermanfaat berdasarkan saling menghormati kemampuan masing-masing untuk menjelaskan apa yang kita sebut dengan “agama”. Karena kita bicara tentang ISLAM secara spesifik, ini yang akan menjadi fokus debat.

Dengan hormat,
R. Shahzad
---------------------------------------------------------------------- ---------------

15 November 2003
DARI ALI SINA

Yth Mr. Shahzad,
Saya sangat sibuk untuk berdebat dengan orang satu persatu. Sebenarnya saya menciptakan forum ini untuk meringankan beban saya. Walaupun demikian, saya menerima tantangan anda. Saya akan terbitkan debat kita ini di bagian debat pada website saya sehingga setiap orang dapat membacanya.

Saya akan sangat berterimakasih jika setiap koresponden anda hanya membahas satu aspek yang anda ingin perdebatkan. Bahasan yang singkat akan mudah untuk dibaca kembali.

Anda mengatakan sudah mengenal tulisan saya. Nah, segera saja anda membantah tuduhan saya bahwa :

1) Islam adalah palsu,
2) dan Muhammad BUKAN rasulullah namun seorang yang terganggu
secara mental dan seorang penipu.

Dalam debat ini, saya akan mengambil posisi jaksa dan anda mewakili klien anda, sang terdakwa, Muhamad.

Mari kita mulai dengan :
1) karakter Muhammad.
Dalam pendapat saya, seseorang yang menyatakan diri seorang rasulullah harus memiliki kualitas iman sbg berikut: cinta kasih, kejujuran, pandai menahan-diri dsb. Muhammad tidak mungkin seorang rasulullah karena ia licik, imoral, tidak etis, tidak memiliki kualitas kemanusiaan. Ia seorang pembunuh masal, seorang sex-maniac, pedophile yang tidak kenal malu, seorang pembunuh licik, seorang kepala perampok, schizophrenic narcissist, pembohong menjijikkan dan banyak lagi kekurangannya yang men-diskualifikasi-kanya sebagai seorang manusia baik2, apalagi seorang rasulullah.

Keberatan saya berikut mengenai pernyataan kerasulan Muhammad adalah :
2) absurditas dan ketidakwajaran dalam Quran. Tidak mungkin sang pencipta alam semesta yang luar biasa ini adalah penulis yang menciptakan buku absurd itu. Apakah mungkin Allah begitu bodoh tentang fakta2 simpel dalam sains, nalar, matematik, sejarah dan bahkan tata bahasa seperti dinampakkan oleh penulis sang Quran ?

Mari kita membahas satu masalah satu per satu.

BAGIAN I
Muhamad sebagai pembunuh (assassin).

Saya menuduh Muhammad sebagai pembunuh, seseorang yang harus dicela dan dihukum dan oleh karena itu tidak pantas menyandang julukan rasulullah. Setelah anda membaca cerita2 dibawah ini, saya ingin anda MEMBUKTIKAN bahwa tuduhan saya ini salah.

Daftar kejahatannya panjang. Namun saya tidak meminta anda membaca semuanya. Saya hanya memilih 4 dari cerita2 pembunuhan tersebut. Saya minta anda membaca keempat cerita tersebut, menegaskan kesahihan sumber beritanya dan lalu membela klien anda, Muhammad, dan buktikan ia tidak bersalah.

http://www.answering-islam.org/Muhammad/Enemies/abuafak.html

http://www.answering-islam.org/Muhammad/Enemies/asma.html

http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/assassinations.htm

http://www.answering-islam.org/Muhammad/Enemies/sallam.html


Sampai jumpa,

Ali Sina.

END OF PREAMBLE

http://www.faithfreedom.org/debates/Shahzad1.htm

UMAT MANUSIA vs. MUHAMAD BIN ABDALAH
BAGIAN I, PEMBUNUHAN

Nov. 16, 2003

Terdakwa: Muhammad bin Abdallah
Pembela: Raheel Shahzad
Perkara: Umat Manusia (Dunia non-Muslim)
Jaksa: Ali Sina

Sidang pengadilan: Opini publik
Jury: Anda

DARI RAHEEL SHAHZAD
Nov. 16, 2003
Yth A Sina,

Anda menulis:
1)
karakter Muhammad.
Dalam pendapat saya, seseorang yang menyatakan diri seorang rasulullah harus memiliki kualitas iman sbg berikut: cinta kasih, kejujuran, pandai menahan-diri dsb. Muhammad tidak mungkin seorang rasulullah karena ia licik, imoral, tidak etis, tidak memiliki kualitas kemanusiaan. Ia seorang pembunuh masal, seorang sex-maniac, pedophile yang tidak kenal malu, seorang pembunuh licik, seorang kepala perampok, schizophrenic narcissist, pembohong menjijikkan dan banyak lagi kekurangannya yang men-diskualifikasi-kanya sebagai seorang manusia baik2, apalagi seorang rasulullah.


Nah, anda melemparkan tuduhan kepada seorang manusia. Ini penting diakui karena kita berdua harus menilai tindak manusia lewat kode moral kita. Jadi nampaknya fair kalau seorang manusia kena tuduhan, maka ia juga harus diukur dari kaca mata manusia. Tidak diragukan bahwa Muhamad seorang manusia. Ia lahir dan mati. Nah, hubungan ketuhanannya inilah yang menjadi pembahasan kita disini.

Mari kita lihat definisi Manusia (HUMAN) dari dictionary.com ;

Of, relating to, or characteristic of humans: the course of human events; the human race.
Having or showing those positive aspects of nature and character regarded as distinguishing humans from other animals: an act of human kindness.
Subject to or indicative of the weaknesses, imperfections, and fragility associated with humans: a mistake that shows he's only human; human frailty.
Having the form of a human.
Made up of humans: formed a human bridge across the ice.


Mengapa penting membahas definisi manusia (human) disini ? Karena kami dapat mengerti seorang manusia lewat kode moral kita sekarang. Yang interesan adalah definisi ketiga : indicative of the weaknesses or imperfections and fragility. Atau bah Indo: menunjukkan kelemahan, ketidaksempurnaan dan kerapuhan.

Anda menulis: ... seseorang yang menyatakan diri seorang rasulullah harus memiliki kualitas iman sbg berikut: cinta kasih, kejujuran, pandai menahan-diri dsb

A) Cinta - Cinta macam apa yang anda maksudkan disini ? Apakah artinya berbeda dari masa ke masa atau konstan ? Apakah ini cinta bagi sesama manusia atau cinta bagi dunia akhirat ? Dan apakah cinta ini termasuk cinta bagi hal2 yagn disepakati manusia cinta atau bagi apa saja yang disukai manusia? Apakah mencakup sex? Dan jika seorang lelaki menyatakan jatuh cinta kepada isteri orang lain, apakah ini dapat diterima secara moral oleh jaman kita ini ?

B) Kejujuran - apakah kejujuran dituntut dalam segala keadaan atau apakah ada pengecualian ?

C) Sikap menahan diri - Menahan diri dari kejahatan guna melakukan tindakan yang diinginkan nurani atau menahan diri dari segala tindakan yang dianggap jelek baik bagi jaman dulu ataupun jaman sekarang ? Atau kedua2nya ?

Alasan pertanyaan saya diatas penting untuk menentukan degnan jelas apa hukum yang berlaku sehingga kami dapat menentukan apa yang dimaksud degnan pelanggaran hukum tersebut. Baru kita dapat menuntut sang terdakwa, baru kita dapat menentukan kesalahan terdakwa.
Namun jika hukum itu sendiri bisa diinterpretasi macam2 maka jury tidak akan pernah bisa menentukan kesalahan sang terdakwa, karena memang tidak ada hukumnya.

Contoh di Amerika, banyak undang2 dibatalkan atau diganti karena dianggap sudah tidak pantas atau terlalu kabur. Banyak orang dibebaskan tanpa tuduhan karena hukumnya sendiri tidak jelas. Jadi, tanpa menetapkan hukumnya, sulit menentukan pelanggarannya.

Anda menulis:
2) absurditas dan ketidakwajaran dalam Quran. Tidak mungkin sang pencipta alam semesta yang luar biasa ini adalah penulis yang menciptakan buku absurd itu. Apakah mungkin Allah begitu bodoh tentang fakta2 simpel dalam sains, nalar, matematik, sejarah dan bahkan tata bahasa seperti dinampakkan oleh penulis sang Quran ?

Nah sekarang kita menyentuh masalah intelektualitas dan pengetahuan. Keberatan anda didasarkan pada pendapat anda bahwa intelektualitas adalah syarat keTuhanan, bahwa manusia harus dapat mengerti keTuhanan dari perspektifnya dan ketuhanan harus dapat dijelaskan sejelas mungkin. Tuhan harus mengikuti nalar setiap manusia dan sanggup menjelaskan sikapNya tanpa menimbulkan keraguan, kalau tidak Ia sebaiknya diam2 saja.

Absurditas dan ketidakwajaran juga harus dijelaskan artinya dalam hubungan dengan intelektualitas. Masalahnya adalah, intelektualitas sendiri artinya relatif. Dan intelektualitas sulit diukur bagi orang yang berbeda pandangan. Contoh, saya pandai dalam hal komputer tetapi tidak mengerti apapun tentang masalah medical science.

Jadi saya rasa maksud anda dengan intelektualitas adalah "nalar".
Nalar/Logika adalah persepsi yang eksklusif dimana 2 persepsi berbeda memiliki logika berbeda.

Contoh:
1) John dan Mary bepergian ke Bermuda naik perahu
2) Sebuah perahu tidak dapat bergerak kalau ada lebih dari satu orang didalamnya. Nah, terdapat kontradiksi dalam kedua pernyataan tadi karena bertentangan dengan logika. Sehingga kedua pernyataan tadi jika digunakan bersama2 adalah absurd.
Tidak mungkin menghubungkan 1 dan 2 seperti ditulis diatas, tanpa sang penulis menambahkan kalimat atau menggunakan asumsi. jadi berdasarkan diatas, kedua pernyataan menentang nalar jika digunakan bersama.

Jadi, keberatan anda ada dua:
a) Quran sebagai kumpulan kalimat adalah absurd karena menentang nalar dan
b) karena menentang nalar, sang penulis haruslah seorang manusia karena hanya manusia yang mampu menentang nalar. Maka Tuhan harus menuruti nalar setiap manusia, kalau tidak Ia sebaiknya tidak memiliki hak untuk mengatakan apa2.

Mengenai masalah kalimat2 dalam Quran saya akan membahasnya dalam bagian lain. Tetapi yang perlu ditetapkan sekarang adalah apa yang dimaksud dengan pelanggaran intelektualitas dan seperti saya sebutkan pada mulanya, pelanggaran moralitas.

Anda menulis:
Muhammad sebagai pembunuh (assassin).
Saya menuduh Muhammad sebagai pembunuh, seseorang yang harus dicela dan dihukum dan oleh karena itu tidak pantas menyandang julukan rasulullah. Setelah anda membaca cerita2 dibawah ini, saya ingin anda MEMBUKTIKAN bahwa tuduhan saya ini salah.


'Assassin', sejauh pengertian saya berasal dari kata "Hashishin" (sekelompok Muslim yang membunuh atas perintah para Sheikh pada abad 17 dan para sheikh memberikan mereka hashish dengan alasan tdiak jelas). Jadi definisi assassination dibuat belum lama ini :

Seseorang yang mengadakan pembunuhan dengan cara mengejutkan (surprise attack), khususnya mereka yang mengadakan rencana untuk membunuh orang penting.

Nah, definisi ini tidak menunjukkan apapun tentang baik buruknya orang yang dibunuh. Alasalan pembunuhan juga tidak disebut apakah guna menjaga keadilan atau lain2. Juga tidak disebutkan kesalahan sang korban (orang yang dibunuh). Jadi, artinya secara singkat adalah pembunuhan. Atau pembunuhan dengan cara surprise. Apakah ini bisa dikatakan salah ? Salah menurut jamannya atau menurut jaman ini ?

Jadi, jika tentara Amerika memasuki rumah seseorang di Iraq dan membunuh penghuni rumah, terlepas dari kejahatan atau kebaikan yang dilakukan para penghuni, apakah para tentara AS itu akan disebut assassins?

Kalau iya, tetapi anda berpendapat bahwa mereka mencapai tujuan AS, maka mengapa orang lain yang juga berjuang untuk membela tujuan mereka disebut dengan assassins ? Jadi tergantung dari siapa yang menginterpretasi.

Dengan logika ini, Muhammad tidak dapat dituduh melakukan assassination karena ia mempunyai tujuan yang dengan jelas disebutkan, terlepas dari anda atau saya setuju dengan tujuannya itu apa tidak.

Anda menulis: Daftar kejahatannya panjang. Namun saya tidak meminta anda membaca semuanya. Saya hanya memilih 4 dari cerita2 pembunuhan tersebut. Saya minta anda membaca keempat cerita tersebut, menegaskan kesahihan sumber beritanya dan lalu membela klien anda, Muhammad, dan buktikan ia tidak bersalah.

Anda meminta saya menegaskan kesahihan sumber2 berita tersebut, yang rasa rasa adalah tuntutan UNFAIR. Ini bukan berarti saya tidak mencoba mencari kebenaran atau menolaknya. Saya hanya mengatakan bahwa anda ingin agara saya menggunakan sumber yang sama untuk membela klien saya, yang sudah pasti akan melemahkan posisi klien saya. Anda ingin membatasi sumber2 pembelaan saya.

Peraturan tentang cara pembuktian ini paling sedikit harus ditetapkan dahulu. Kasus2 masa lalu bagi saya tidak merupakan bukti, mereka hanya kasus yang mungkin tidak lagi dpat diberlakukan jaman sekarang. Pendapat orang juga tidak dapat digunakan sebagai bukti. Pernyataan atau asumsi juga bukan bukti. Jadi kalau kita tidak dapat menentukan cara pembuktian, maka sulit membatasi kasus.

Saya usulkan agar kami membatasi materi yagn memiliki referensi guna menentukan hukumnya dan baru membahas klien saya salah atau tidak.

Saya ingin tegaskan bahwa tugas saya tidak untuk membuktikan klien saya tidak bersalah. Tujuan saya adalah untuk menunjukkan bahwa kesalahannya tidak dapat dibuktikan atau tidak dapat ditetapkan tanpa keraguan (established beyond any doubt). Membuktikan tidak bersalahnya orang tidaklah mungkin mengingat waktu yang sudah berlalu.

Kesimpulan saya :

Tuduhan anda banyak mengandung asumsi;
Standar anda dalam hal norma dan intelektualitas tidak jelas;
Anda menggunakan kata "assassin" namun tidak dapat menjelaskan artinya dan sangat menunjang pihak yang terbunuh;
Sumber2 pembuktian tidak jelas dan harus dibatasi ; dan
"Innocence until proven guilty beyond doubt" (Tidak bersalah sampai terbutki bersalah tanpa keraguan) adalah posisi saya.

Terima kasih.

R Shahzad


---------------------------------------------------------------------- ----------

JAWABAN A SINA
Nov. 16, 2003

Yth Mr. Shahzad,

Saya menuduh klien anda, Muhammad sebagai assassin dan dari sejumlah kasus yang tersedia, saya hanya memilih empat kasus.

Anda tidak sekalipun membantah tuduhan saya maupun ke-aslian (authenticity) kasus2 yang menjadi sumber tuduhan saya. Kasus2 ini memang sulit dibantah karena mereka dilaporkan dalam semua sumber Islam seperti Sirat Rasulallah-nya Ibn Is-haq, al Waqidi, al Tabari and beberapa hadis sahih.

Karena anda tidak dapat membantah bukti2 tersebut, anda lalu mencoba mendefinisikan istilah manusia (human being) dan pembunuhan (assassination).

Dalam pembelaan anda anda mengatakan bahwa Muhamad seorang manusia biasa dan anda menjelaskan apa artinya "manusia". Anda menekankan bahwa Muhamad juga memiliki kelemahan, ketidaksempurnaan dan kerapuhan. Saya setuju dengan itu semua. Namun ITU BUKAN ALASAN MENGHALALKAN PEMBUNUHAN.

Semua pelaku kriminal adalah manusia dan merekapun memiliki kelemahan. Tetapi apakah itu alasan untuk membebaskan mereka ?

Saya ragu sebuah jury akan membebaskan seorang pelaku kejahatan karena ia seorang manusia yang memiliki kelemahan. Kami semua manusia dengan berbagai kelemahan, tetapi tidak semua dari kami adalah pembunuh. Mungkin lebih baik anda membela klien anda dengan alasan TIDAK WARAS. Ini pembelaan yang bisa membebaskan klien anda dari segala tuduhan.

Anda kemudian mendefinisikan kembali konsep baik dan buruk dan bahwa definisi saya tentang kebaikan dan keTuhanan adalah subyektif.

Anda mengatakan cinta kasih adalah relatif dan bertanya apakah kalau bicara mengenai cinta, apakah juga menyangkut moralitasnya.

Anda mempertanyakan apakah kejujuran harus diterapkan dalam segala situasi dan apakah ada pengecualian kalau ketidakjujuran bisa membawa keuntungan.

Dan tentang sikap menahan diri anda bertanya:
"Sikap menahan diri - Menahan diri dari kejahatan guna melakukan tindakan yang diinginkan nurani atau menahan diri dari segala tindakan yang dianggap jelek baik bagi jaman dulu ataupun jaman sekarang ? Atau kedua2nya ?"

Pertanyaan2 ini tidak ada hubungannya dengan kasus.

Anda mengatakan alasan pertanyaan anda adalah anda tidak pasti apakah baik-buruk tindakan dianggap sama oleh semua orang. Dengan kata lain, anda mempertanyakan definisi orang tentang "baik dan buruk". Sampai2 anda mengatakan bahwa pembunuhan/assassination belum tentu buruk. Anda menyimpulkan “tanpa menentukan hukumnya, kita tidak dapat memastikan hukum apa yang dilanggar.”

Saya tidak percaya bahwa baik-buruk begitu relatif sehingga kita tidak dapat menentukan bahwa membunuh seseorang karena ia tidak sependapat dengan kita adalah tindakan baik.

Mungkin baik-buruk bagi manusia adalah relatif. Tetapi intelektualitas kita, terlepas dari ketidaksempurnaannya, adalah satu2nya alat yang ktia gunakan untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Adalah TIDAK MASUK AKAL untuk mengatakan bahwa pembunuhan adalah OK karena kita manusia yang memiliki kelemahan dan tidak mengerti beda antara baik dan buruk.

Cinta kasih juga kualitas manusia. Moralitas adalah topik lain lagi. Point-nya adalah bahwa seorang manusia yang tidak memiliki kualitas kemanusiaan ini tidak patut menyandang gelar manusia. Kami menyebut orang macam itu MONSTER dan bukan manusia.

Pertanyaan anda mengenai kejujuran adalah : kejujuran selalu diinginkan dan ketidakjujuran selalu tidak diinginkan. Tidak ada pengecualian.

Apa yang anda inginkan disini adalah relativitas moral. Dengan kata lain, anda mengatakan kejahatan diperbolehkan kalau kebaikan adalah jalan yang terlalu panjang. Ini absurd, karena ini memperbolehkan orang untuk melakukan kejahatan sesuai dengan standar moralnya.

Saya sama sekali tidak kaget akan filosofi anda. Anda hanya mengekspresikan filofosi Islam. Ini menunjukkan bahwa Islam memang agama yang moralitasnya relatif, yang mengijinkan ketidakjujuran, pembunuhan dan kejatahan lainnya yang sesuai dengan moral para pengikutnya.

Dibawah ini kutipan Iman Ghazali, akademisi Islam paling ternama:

"Kalau mencapai tujuan dapat dimungkinan dengan berbohong, dengan menyembunyikan kebenaran, membohong diijinkan jika tujuannya diijinkan." (Ref: Ahmad Ibn Naqib al-Misri, The Reliance of the Traveller, translated by Nuh Ha Mim Keller , Amana publications, 1997, section r8.2, page 745).

Berbeda dengan anda, saya tidak setuju dengan relativitas moral. Saya pengikut Prinsip Emas : "Jangan memperlakukan orang sebagaimana anda tidak ingin diperlakukan".

Saya tidak ingin dibunuh, oleh karena itu saya juga tidak membunuh.

Saya tidak ingin orang menjajah kota saya, merampok harta saya, memperbudak anak2 saya dan meniduri isteri saya. Saya juga tidak melakukan hal ini kepada orang lain.

Saya tidak suka menjadi warga kelas dua, dihina dan diwajibkan membayar pajak (jizyah) karena ingin mempertahankan hak saya untuk mengikuti kepercayaan saya. Saya juga tidak memperlakukan orang lain demikian.

Saya tidak ingin orang memukuli saya kalau saya tidak patuh. Oleh karena itu pula saya tidak memukuli isteri saya.

Saya tidak suka dibohongi, dikibuli. Oleh karena itu saya merasa ketidakjujuran adalah tidak baik dan tidak ada pengecualian yang sah.

Melanjutkan pembahasan relativisme moral anda, anda juga mengatakan bahwa intelektualitas manusia adalah RELATIF sehingga tidak dapat mengerti prinsip2 keTuhanan.

Anda menulis:
“Tuhan harus mengikuti nalar setiap manusia dan sanggup menjelaskan sikapNya tanpa menimbulkan keraguan, kalau tidak Ia sebaiknya diam2 saja.”

Jawaban saya tetap sama. Intelektualitas manusia mungkin tidak sempurna namun merupakan satu2nya alat untuk membedakan baik dari buruk. Kalau tidak, bagaimana membedakan seorang penipu dengan seorang yang benar2 utusan Tuhan ? Ada ribuan orang yang mengaku nabi. Bagaimana kita tahu mana yang benar ? Bagaimana kita tahu bahwa Muhamad-lah benar2 rasulullah ?

Caranya ? Gunakan otak ! Yah, otak yang tidak sempurna itu. Jika kelakuan dan perkataan para "nabi" itu membuat otak kita bertanya2 maka kita tahu bahwa mereka itu tukang ngibul.

Seperti kata Galileo ; JIKA TUHAN TIDAK INGIN KITA MENGGUNAKAN OTAK KITA, MENGAPA IA MEMBERIKANNYA KEPADA KITA ?

Mengukur Quran dan tingkah laku Muhamad dengan otak/human intelligence kita, kita dapat dengan mudah menentukan kualitasnya sebagai pembawa pesan dari Tuhan. KECUALI anda berpendapat bahwa Tuhan memang begitu sinting sampai mengirim seorang bandit psychopath yang suka sex dengan anak kecil untuk mengantar kita semua, umat manusia, ke jalan yang benar.

Anda memberikan definisi tentang 'assassin'.
Saya rasa anda bingung. Kita disini tidak membahas kebaikan dan kejahatan KORBAN, melainkan SANG PEMBUNUH. Pertanyaannya adalah apakah tindakan pembunuhan adalah tindakan yang PANTAS DILAKUKAN OLEH SEORANG RASULULLAH. Kesalahan seseorang harus ditentukan oleh pengadilan, tidak oleh seseorang yang merasa ia berhak membunuh orang lain karena tuduhan fitnah (misalnya).

Anda memberi contoh tentara AS. Kalau tentara AS masuk rumah orang lain dan membunuhi penghuni, apakah mereka bisa dicap assassin, anda tanya. Jawaban saya ; YA ! Tentara itu akan dituduh dengan 'war crime' dan harus diseret ke pengadilan.

Tentara AS tidak memasuki rumah orang dan membunuh secara sembarang. Mereka mungkin memasuki rumah orang untuk mencari senjata atau menangkap musuh. Namun mereka tidak akan menembak sebelum ditembaki terlebih dahulu.

Nah, bedakan dengan ekspedisi pembunuhan/assassination Muhamad. Dari link2 yang saya berikan kami bisa membaca bahwa Muhamad mengirim seseorang untuk membunuh seorang lelaki berusia 120 tahun karena memperingati orang2 Medinah agar menjaga diri terhadap kebohongan Muhamad. Ketika Asma binti Marwan, seorang penyair dan seorang ibu lima anak kecil mengeluh tentang pembunuhan brutal tersebut, Muhamad mengirimkan orang lain untuk membunuh Asma dimalam buta, selagi ia di tempat tidur menyusui bayinya. Mudah2an anda juga pernah membaca kasus Ka'b ibn Ashraf dan Abu Rafi.

Inilah macam kejahatan yang dilakukan oleh Klien anda yang dianggap nabi dan diikuti secara buta oleh satu milyar orang. Dan lihatlah bagaimana ia mengejek siapapun dan bagaimana sang "allah" ciptaannya selalu siap dengan pujaan bagi dirinya:

Q.68:4 : Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Q.33:21 : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) ....

Q.21:107 : Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. ('rahmatul lil alamin')

Q.81.19: sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril) ...

Kami (FFI) ingin menjelaskan fakta2 ini dan menelanjangi Muhamad, sehingga paling tidak kami dapat menyelamatkan Muslimin, korban utama kebohongan besar Islam ini dan menyelamatkan dunia dari kehancuran. Namun kami hanya bisa menyelamatkan mereka yang mau, mereka yang jiwa dan pemikirannya belum dirusak total oleh Islam. Namun mereka yang Islamnya sudah merasuk tidak lagi dapat kami bantu.

Seseorang yang membenarkan pembunuhan, mempertanyakan apakah kejujuran kadang2 baik dan telah tenggelam kedalam relativisme moral Islam sehingga tidak lagi dapat melihat kenyataan secara obyektif tidak lagi dapat diobati dengan nalar/logika.

Namun saya berterima kasih atas kejujuran anda (walaupun anda merasa ketidakjujuran kadang perlu) dan tidak membantah ke-otentik-an hadis dan sumber2 sejarah lain yang menunjukkan kejahatan yang dilakukan oleh Klien anda, Muhamad.

Anda tidak mengajukan sumber2 sejarah lain dan nampaknya anda cukup puas dengan pembelaan anda bahwa pembunuhan, ketidakjujuran dan tindakan buruk lainnya, "kadang2 bisa menguntungkan" dan kami manusia tidak sanggup membedakan antara satu dengan yang lain. Dan oleh karena itu Muhamad tidak dapat dikenakan tuduhan apapun.

Dengan kata lain, anda mengejek kemampuan manusia untuk berpikir dan menggunakan nalar. Anda menyatakan bahwa karena manusia tidak sanggup mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk dan oleh karena itu setiap kejahatan yang dilakukan Muhamad sebenarnya dapat diartikan sebagai kebaikan.

Bukankah ini cara berpikir seorang pelaku kriminal ? Ataukah Muhamad pengecualiannya ?

Interesan sekali pembelaan anda dengan menggunakan jalur pikir dan nalar/logika untuk menentukan salah atau tidak salahnya Muhamad.

Nalar/Logika macam apa yang anda maksudkan ? Apakah tidak jelas bagi anda bahwa pembunuhan bukan tindakan baik ? Bahwa pedophilia tidak baik ? Bahwa perampokan, pencurian dan pembudakan wanita dan anak2 adalah tidak baik ?

Terakhir, anda mengatakan:
"Saya ingin tegaskan bahwa tugas saya tidak untuk membuktikan Klien saya tidak bersalah. Tujuan saya adalah untuk menunjukkan bahwa kesalahannya tidak dapat dibuktikan atau tidak dapat ditetapkan tanpa keraguan (established beyond any doubt). Membuktikan tidak bersalahnya orang tidaklah mungkin mengingat waktu yang sudah berlalu."

Saya tidak lagi perlu membuktikan kesalahan karena kesalahan itu sudah diakui. Cukup membaca sejarah dan hadis yang ditulis oleh para pengikut setia Islam guna melihat bagaimana mereka membanggakan diri atas tindakan kriminal yang dilakukan nabi mereka.

Sekarang terserah pada jury untuk membahas keputusan mereka.

Ali Sina
---------------------------------------------------------------------- ---------

Untuk sesi pengadilan berikutnya saya mengundang anda untuk membantah tuduhan saya bahwa Muhamad adalah seorang yang gila wanita (a lecherous womanizer). Saya menyatakan bahwa mengingat kurangnya kualtias keimanannya ini, ia BUKAN seorang rasulullah.
Ia hanyalah seorang pemimpin cult yang sukses dan brutal yang menipu pengikutnya agar mematuhi ambisi dan nafsunya.

Dalam link2 berikut ini saya menyampaikan bukti2.

Juwayriah
http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/Juwairiyah.htm

Safiyah: the Jewish wife of Muhammad
http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/safiyah.htm

Adoption in Islam and Muhammad's Marriage to Zainab Bint Jahsh.
http://www.faithfreedom.org/Articles/SKM/zeinab.htm

Mariyah The Coptic Sex Slave of the Prophet
http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/mariyah.htm


END OF PART I

BAGIAN II
Umat Manusia vs. Muhammad bin Abdallah
Agama dan Moralitas


Tergugat: Muhamad bin Abdullah
Pembela: Raheel Shahzad

Penggugat: Umat Manusia (Bagian non-muslim)
Penuntut: Ali Sina

Pengadilan: Opini Publik
Juri: Pembaca

---------------------------------------------------------------------- --------------

Dari Raheel Shahzad kepada Ali Sina
18 November 2003

Mr. Sina,

Apabila menyelamatkan kemanusiaan merupakan tujuan anda, maka mengutuk atau menjelek2kan sebagian umat manusia meragukan motivasi dan sikap mental anda sesungguhnya. Tentu saja anda dapat mengaku bahwa anda tidak puas dgn Islam karena Islam menyebarkan kebencian, namun bagaimana mungkin membasmi kebencian dengan kebencian yang lebih besar? Apakah ini tidak nampak seperti lingkaran setan; menyatakan perang terhadap sekelompok orang dengan tujuan menyelamatkan mereka?

Bagaimana saya dapat percaya bahwa anda benar-benar ingin menyelamatkan umat manusia? Jika menyelamatkan saya dari cengkraman Islam tidak tercapai secara intelektual, bagaimana saya dapat percaya bahwa anda akan menyelamatkan orang lain dengan pesan anda?

Muslim dimanapun akan menolak sebuah pesan dimana yang membawa pesan memiliki perilaku yang sama dengan orang yang ia tuduh. Untuk dapat menyelamatkan yang kurang intelek, bukankah lebih penting untuk meyakinkan para intelektual dulu?

Katakanlah suatu saat proyek anda ini berhasil, maka pilihan apa yang anda tawarkan bagi sebagian besar umat manusia ini?

Terlalu banyak pertimbangan untuk dapat ditulis di sini, oleh karena itu saya akan menggunakan contoh EFEK DOMINO:
Seandainya pendapat anda mengakibatkan penolakan terhadap Quran, bukankah kita menghadapi dilema moral mengenai buku mana yang akhirnya benar-benar suci ? Bukankah Terdakwa juga dituduh telah berbohong maka hal ini juga akan mengakibatkan semua kitab sebelumnya menjadi tidak sah ?

AKibatnya, seluruh ajaran kemanusiaan secara fisik maupun rohani jadi diragukan dan akhirnya manusia akan tiba pada kesimpulan bahwa tidak ada yang namanya tuhan. Dan jika tuhan sendiri menjadi subjek yang diragukan maka kebaikan dan kejahatan hanya dinilai melalui nilai-nilai moral manusia, sehingga manusia sampai pada RELATIVISME MORAL.

Mereka yang berkuasa akan menjadi sewenang-wenang karena memiliki kuasa atas moral DAN karena tidak ada etika yang nyata dari yang maha kuasa. Manusia dapat berada pada posisi yang lebih rendah daripada hari ini. Karena mereka menyingkirkan pemikiran akan tuhan, atau membiarkan penafsiran terbukan tanpa ada suatu kerangka yang nyata mengakibatkan kerusakan yang lebih besar daripada hari ini. Dan itulah yang menjadi kekhawatiran saya hari ini.

Sebenarnya saya setuju dengan misi anda, namun caranya yang sangat berbeda. Maka dari itu belas kasih terhadap kemanusiaan dan pertimbangan berdasarkan suatu logika tidak boleh dimonopoli oleh mereka yang merasa diri sebagai tuhan. Dan saya pikir kesimpulanmu di bagian 1 tidak memenuhi syarat ini, karena anda tidak mampu menjabarkan tindakan yang harus diambil atau bahaya apa yang harus dihadapi bila mengikuti pola pikir anda tersebut.

Pada suatu titik anda akan terpaksa mengadopsi Relativisme Moral, yang anda tolak sendiri di bagian 1. Karena tanpa relativisme ini, anda tidak memberikan pilihan apapun. Apabila pemimpin suatu misi menolak apa yang seharusnya ada untuk menjamin kelangsungan suatu dunia tanpa tuhan, maka ini adalah penipuan. Pada akhirnya Moralitas Sesaat akan menjadi agama. Dan jaminan apakah yang anda berikan bahwa moral tidak akan ditolak atau berubah juga pada akhirnya? Mereka yang mengikuti pola ketuhanan anda sepantasnya disebut ‘moralis’.

Jika anda memang benar, Mr. Sina dan anda benar-benar mengharapkan orang meninggalkan Ilam, anda harus menyiapkan suatu kode moral bagi orang yang berpihak kepada anda. Dan kode moral itu harus dipergunakan sebagai contoh, mengacu pada perintah sederhana, atau akan sangat sulit diterapkan. Jika anda membiarkan para pengikut anda untuk membela diri sendiri atau mengembangkan kode moral sendiri, apakah anda menjamin Iran tidak akan menerapkan ‘Hijab’ terhadap warganya? Anggaplah mereka benar-benar membiarkan warganya memiliki kebebasan baik pikiran maupun tindakan, apa yang akan terjadi dengan mereka yang membelokkan kode moral anda? Anda tentu akan melarang mereka menolak kode moral yang mereka kembangkan secara bebas itu.

Mungkin anda tidak akan tersinggung, tetapi salah seorang dari anggota kelompok anda bisa tersinggung. Apa yang akan terjadi bila kode moral menjadi sangat bebas sehingga bertukar pasangan untuk semalam menjadi sesuatu yang lazim di suatu bagian dunia, bukan berdasarkan suatu kode moral, tetapi benar-benar suatu kebebasan, apakah hal tersebut wajar di mata anda? Itulah akibatnya bila Islam berhasil dihapuskan, digantikan oleh suatu agama baru yang aneh. Dan anda benar-benar tidak dapat mengharapkan orang-orang yang anda sadarkan untuk menerima ajaran lain selain moral yang menjadi ukuran. Hal ini berarti anda harus benar-benar mempercayai orang-orang tersebut dengan menganggap mereka semua adalah orang baik secara moral dan akal sehat. Lantas mengapa moral mereka dianggap kacau hanya karena mereka menganut islam? Jika islam diganti nama menjadi moralitas, perubahan apa yang anda harapkan akan terjadi dan bagaimana cara menegakkan hal ini?

Oleh karena itu saya menolak konsep anda dengan alasan:
a) kasus anda tidak cukup kuat
b) anda tidak mampu mengarahkan para juri atau penggugat
secara jelas
c) anda tidak menghargai aturan yang anda buat sendiri
d) anda telah menuduh secara sepihak tanpa memberi
kesempatan pembela dan juri mendengar kasusnya secara
Utuh
---------------------------------------------------------------------- ---------------

Dari ALI SINA
Yth Mr. Shahzad,

Sebagai Penuntut, saya yakin dengan temuan saya dan tuduhan yang saya ajukan pada Klien anda. Jika saya ragu, saya pasti tidak akan mengajukan tuntutan.

Saya hadir untuk menuntut Muhamad dan tugas anda adalah untuk membelanya. Saya harus mendukung semua pernyataan dengan bukti. Terserah anda untuk membantah bukti saya dan mempertanyakan relevansi dan kesahihannya. Tentu saja anda juga harus memback-up pernyataan anda. Jika anda menuduh tentara Amerika melakukan kejahatan perang, dapatkah anda membuktikannya? Dapatkah anda mengajukan bukti dan saksi? Jika dapat, seharusnya anda jangan membuang waktu di depan komputer. Anda seharusnya berada di PBB dan meminta pengadilan internasional untuk mendukung pernyataan anda.

Anda menulis:
Jika menyelamatkan umat manusia menjadi tujuan anda, maka mengejek dan mengutuk sebagian dari umat manusia menggoyahkan motivasi dan tujuan anda.

Pernyataan anda diatas salah. Saya tidak mengutuki sebagian umat manusia. Saya menolak sebuah ideologi yang dianut oleh sebagian umat manusia. Apakah suatu ideologi menjadi benar dan sakral hanya karena banyak orang mempercayainya? Adakah batasan dimana masih boleh melakukan kritik dan batasan dimana kritik menjadi tabu?

Haruskah kita berhenti mengkritik ideologi? Bagaimana dengan neo-Nazisme? Ribuan orang yang menganut ajaran ini dengan setia. Haruskah kita berhenti mengkritik Hitler karena takut menyinggung perasaan orang kulit putih? Ataukah kita hanya boleh mengkritik doktrin yang hanya memiliki sedikit pengikut sedangkan yang pengikutnya banyak tidak boleh dikritik? Apakah ini kriteria yang anda maksud?

Jadi apakah memang boleh mengkritik Islam pada waktu masih baru dan pengikutnya sedikit? Dari sejarah kita lihat bahwa Muhamad mengirimkan pembunuh untuk membungkam para pengkritiknya. Pada saat yang sama ia sendiri mengkritik dan menodai agama kaum Quraisy, Yahudi dan Kristen dengan mengatakan bahwa mereka telah mengubah agama mereka sendiri dan apa yang sekarang mereka percayai bukanlah agama yang masih asli.

Jadi, pada prinsipnya Islam dan anda sendiri mengajarkan bahwa Islam sama sekali tidak boleh dikritik. Itulah intinya ? Boleh mengkritik semua kepercayaan lain, tapi Islam jangan ? Benarkah?

Peraturan ini diterapkan di negara-negara Islam. Siapa saja yang berkata-kata melawan Islam dan Muhamad akan didakwa melakukan pelecehan dan akan diperlakukan secara mengerikan. Namun di FFI kami mengkritik semua ideologi. Kami mempertanyakan semua kepercayaan. Sebagaimana inspirasi sang Budha, kami mencari pencerahan atas keraguan kami.

Jadi, mengkritik Islam tidak sama dengan menyebar kebencian.

Alquran sendiri yang menyebarkan kebencian :

…bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka… (9:5)
… Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali… (3:2
atau
…sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis… (9:2

Ayat-ayat itulah ayat penyebar kebencian. Perkataan seperti itulah yang seharusnya dihentikan.

Anda menulis:
Jika menyatakan kejahatan seseorang menjadi motif satu-satunya, maka saya tidak yakin anda telah mempertimbangkan semua dilema yang akan terjadi pada umat manusia secara umum.

Dalam pernyataan di atas anda mengimplikasikan bahwa kebenaran bukanlah menjadi pertimbangan anda. Anda lebih kuatir bagaimana kebenaran akan mempengaruhi umat manusia.

Saya yakin bahwa kebenaran selalu lebih baik. Kebenaran hanya akan menyakiti perasaan kita untuk sementara saja. Orang-orang senang dibohongi demi menghindari rasa sakit dan melepaskan kebohongan seperti ini tidaklah mudah. Saya berhasil melepaskan diri. Tetapi kebohongan benar-benar menghancurkan. Kepercayaan palsu sangatlah berbahaya.

Contohnya paham Nazisme. Paham itu berdasarkan kepercayaan palsu bahwa ras Aria berasal dari benua Atlantis yang hilang dan ras inilah yang memperkenalkan peradaban ke seluruh dunia. Kita melihat bahwa kepercayaan itu tampaknya baik-baik saja namun akibatnya sungguh luar biasa. Bayangkan mimpi buruk dan hilangnya begitu banyak nyawa atas kebohongan superioritas ras Aria.

Hari ini kita menuju kepada suatu kehancuran akibat satu lagi kebohongan. Kebohongan yang dimaksud adalah Islam. Islam mengajarkan bahwa penganutnya lebih baik daripada para kafir. Kafir harus diperangi dan Islam harus menjadi yang terbesar di dunia, bahwa jika 10 muslim menghadapi 100 kafir, muslim akan menang karena Allah akan menolong mereka. Bahwa pada akhirnya seluruh dunia akan menjadi muslim. Bila muslim mati dalam peperangan, mereka akan masuk surga dan mendapat hadiah bidadari yang banyak. Jika sebagian besar umat manusia mempercayai hal ini, ini namanya bom waktu.

Sejujurnya, saya tidak melihat alternatif yang lebih baik selain daripada menjinakkan bom ini. Dan itulah misi dari FFI. Kami mencoba menjangkau muslim sebelum terlambat dan mengatakan kepada mereka bahwa Islam itu palsu.

Gambaran umum
Anda mengajak para juri untuk melihat gambaran umum. Menurut anda menyadarkan orang akan palsunya Islam tidak penting karena ini hanyalah akan meninggalkan dunia tanpa agama. Dengan kata lain anda pikir lebih baik menganut suatu agama palsu daripada tanpa agama sama sekali. Anda memperkirakan kekacauan dan degradasi moral.

Saya tidak setuju. Kita telah melihat bahwa RELATIVISME MORAL ADALAH CIRI KHAS ISLAM. Islamlah yang menyetujui kejahatan apabila hasilnya menguntungkan Islam dan muslim. Relativisme moral artinya menghalalkan segala cara.

Namun, saya percaya bahwa moral itu relatif, tetapi bukan dari sudut pandang islam. Saya percaya moralitas relatif terhadap sejarah dan budaya. Dalam Islam, moralitas relatif terhadap kepentingan Islam dan keinginan untuk menang dengan segala cara. Islam mengajarkan bahwa seseorang boleh melakukan kejahatan demi kepentingan Islam.

Etika dalam Islam tidak mempedulikan benar atau salah, baik atau buruk tetapi mengacu kepada halal dan haram. Pada kenyataannya etika merupakan omong kosong dalam islam. Islam sama sekali tidak peduli terhadap etika sama sekali. Diskusi mengenai etika tidak dikenal oleh “filsuf” islam.

Etika yang menyetujui pelanggaran hak asasi manusia pasti tidak benar. Tetapi tidak dalam Islam. Islam tidak menghargai hak non-muslim dan karenanya HAK MEREKA TIDAK SAMA dengan hak para muslim. Wanita dalam Islam juga tidak memiliki hak yang sama dengan para pria muslim. Dalam Islam, hukum syariah menjadi acuan benar dan salah.

Etika diturunkan dari kesadaran manusia dan the Golden Rule:
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=25

Orang yang berakal sehat mampu membedakan benar dan salah mempergunakan Golden Rule sebagai parameter. Tetapi tidak dalam Islam. Benar dan salah mengacu kepada ucapan Muhamad. Contohnya, etika mengajarkan bahwa memukul wanita itu salah. Dalam Islam, memukul istri itu halal. Berdasarkan etika, hukuman tidak boleh melebihi kejahatannya. Dalam Islam hukuman bagi pencuri kecil-kecilan adalah potong tangan. Islam juga mementingkan ‘dosa atas pikiran’. Etika tidak mengenal ini.

Individu dalam masyarakat etis memiliki kebebasan bertindak dan berpikir. Anda bebas berpikir, bertindak, dan berkata-kata selama tidak merugikan orang lain. Dalam Islam kebebasan ini tidak ada. Anda dapat dihukum berat dan bahkan dieksekusi karena mengkritik, menolak islam, melakukan hubungan seks di luar nikah, atau berperilaku homoseks.

Dalam Islam, memukuli istri itu halal tetapi wanita diharamkan memperlihatkan rambutnya kepada orang lain. Poligami itu halal tetapi haram bagi wanita. Memiliki budak dihalalkan, namun diharamkan untuk memungut bunga pinjaman. Halal untuk memperawani gadis 9 tahun tetapi haram bagi anak lelaki dan anak perempuan untuk bermain bersama. Dihalalkan untuk memperkosa anak lelaki dan berperilaku pedofil tetapi haram bagi orang yang homoseks untuk berhubungan dengan sesama mereka yang tentu sudah dewasa. Hukum Syariah relatif terhadap apa yang dikatakan Syariah namun tidak relatif terhadap logika dan etika.

Relativitas moral secara historis dan budaya merupakan topik yang berbeda. Diperlukan pemahaman atas setiap kebudayaan dan tahapan sejarah serta setiap peradaban memiliki kode moral sendiri berbeda dengan peradaban lain.


Apa itu moralitas
Manusia beragama percaya bahwa moralitas berasal dari agama dan bila agama kehilangan pengaruhnya, manusia akan menjadi immoral. Apakah moralitas merupakan produk agama? Apakah orang yang tidak beragama juga tidak bermoral?

Anda berkata bahwa tanpa agama orang akan tukar menukar istri. Saya pernah bercakap-cakap dengan seorang muslim muda yang berkeras bahwa jika tanpa agama orang akan melakukan incest dan tidak ada yang akan mampu menahan mereka untuk meniduri ibu mereka sendiri. Saya bertanya apakah dia bergairah terhadap ibunya dan apakah Islam satu-satunya pencegah dia meniduri ibunya? Dia tampak tersinggung.

Bagian terbesar dari moralitas kita adalah naluri kita. Incest tidak dianut oleh peradaban manapun baik agamis maupun tidak. Tentu ada beberapa individu dengan perkembangan mental yang abnormal. Pada kenyataannya, kecuali Simpanse Bonobo di Zaire yang saling menggosokkan alat kelamin mereka untuk melambangkan ikatan sosial, tidak ada jenis kera lain yang berkembang biak melalui incest. Biasanya para pejantan mengunjungi kelompok lain untuk mencari pasangan. Singa muda dipaksa meninggalkan kelompoknya untuk mencari pasangan singa betina di kelompok lain.

Menariknya, pernikahan di antara anak-anak yang tumbuh bersama dalam suatu panti asuhan jarang terjadi atau bahkan tidak pernah terjadi, sekalipun anak-anak ini tidak ada yang memiliki hubungan darah.

Namun beberapa issue moral tidak sejelas contoh di atas. Apa yang tergolong moral dan imoral tergantung pada waktu dan budaya. Bahkan bisa berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Apa yang dulu dianggap bermoral misalnya seribu tahun lalu menjadi immoral saat ini, demikian sebaliknya. Begitu pula apa yang dianggap bermoral di satu belahan dunia bisa dianggap sebaliknya di bagian dunia lain.

Contohnya perilaku seks bebas. Banyak kebudayaan menganggap hal tersebut immoral. Tetapi ada juga kebudayaan yang menganggapnya sebagai norma. Bagi kami, ‘yang berkiblat ke barat’ memiliki beberapa partner secara bersama-sama merupakan hal yang immoral. Namun bagi muslim yang menganut poligami, hal tersebut adalah ‘anugerah Allah’.

Di satu bagian dunia, wanita melakukan poliandri. Dalam suku Inuit, seorang pria akan menawarkan istrinya kepada tamunya untuk dihamili. Perilaku mana yang immoral? Dan siapa yang menentukan hal tersebut?

Apakah memperlihatkan bagian tubuh itu immoral? Di tengah hutan Amazon beberapa suku benar-benar telanjang. Apakah hal tersebut immoral? Bagi mereka itulah gaya hidup. Di beberapa negara Islam wanita diharuskan menutup semua bagian tubuhnya (seperti anak-anak yang main hantu-hantuan). Apakah itu moral yang baik? Jika hal demikian menjadi definisi moral, apakah wanita yang berpakaian sopan tanpa hijab termasuk immoral? Bagaimana pula dengan wanita berbikini di pantai? Apakah mereka immoral? Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas bergantung pada siapa anda dan apa standar moral anda.

Mari kita lihat contoh lain: perbudakan. Apakah perbudakan itu immoral? Perbudakan dilakukan selama berabad-abad bahkan oleh orang yang paling religius. Muhamad bukan hanya memiliki budak tapi dia juga mengambil untung dengan cara memperjualbelikan manusia bebas sebagai budak. Apakah dia immoral? Jika ya, mengapa kita mengikuti seorang yang tidak bermoral dan jika tidak, mengapa sekarang kita mengutuk perbudakan?

Bagaimana dengan perilaku pedophil? Kita semua tentu menolaknya dan menganggap hal tersebut sebagai suatu tindakan immoral. Tetapi pada waktu Muhamad melakukan hal tersebut terhadap anak perempuan berumur 9 tahun hal ini tidak dianggap immoral. Bahkan ayah Aisyah secara rela menyerahkan anaknya menikah dengan Muhamad sesuai dengan permintaan Muhamad. Pada waktu itu tidak ada yang mengerutkan dahi. Pertanyaannya adalah, jika meniduri anak berumur 9 tahun tidak dianggap immoral, apakah berarti hal tersebut benar? Tidak semua yang dipandang bermoral oleh masyarakat itu benar. Berhubungan seks dengan anak kecil mungkin dianggap wajar 1400 tahun yang lalu di tanah Arab, tetapi dulupun tetap tidak etis.

Moralitas ditentukan oleh situasi, tetapi etika melampaui waktu dan ruang. Etika berakar pada logika. Moralitas dapat berbeda antar kebudayaan, dari waktu ke waktu dan dari orang per orang. Siapa yang berhak menentukan sesuatu itu bermoral atau tidak?

Seorang pria di Pakistan dapat menganggap bahwa pertemuan istrinya dengan sepupu laki-lakinya tanpa kehadiran orang ketiga sebagai tindakan immoral, menodai kehormatannya dan untuk memulihkan kehormatan, sang istri harus dibunuh. Baginya, pertemuan dua saudara adalah tindakan immoral tetapi membunuh dianggap baik-baik saja.

Kita harus membedakan moralitas yang membahayakan masyarakat dengan yang tidak. Apa yang membahayakan harus dianggap tidak etis dan dilarang. Perbudakan contohnya, melanggar kebebasan seorang manusia. Karena itu entah dilarang atau dipraktekkan oleh suatu budaya, hal tersebut tetap tidak etis. 1400 tahun yang lalu memiliki budak bukanlah tindakan immoral. Tetapi secara etika perbudakan itu salah dan hal tersebut melintasi waktu. Bahkan sang nabi pun tahu bahwa perbudakan itu salah. Itulah sebabnya ia menyuruh para pengikutnya untuk membebaskan budak sebagai tindakan amal. Namun ia tetap menambah koleksi budaknya dengan menyerang kota demi kota dan menangkapi orang bebas untuk kemudian dijadikan budak.

Menariknya, atas perkataan nabi, para muslim membebaskan budak ketika budak itu telah tua dan tidak mampu lagi bekerja. Membebaskan budak pada waktu mereka masih muda adalah tindakan amal dan bermoral tetapi membebaskan mereka setelah tua tanpa tunjangan apapun sangat tidak etis. Sang nabi lupa menyatakan hal tersebut dan karenanya para mantan budak yang sudah tua menjadi pengemis di jalan sementara majikan mereka mendapat anugerah allah karena telah membebaskan budak sambil menghindarkan diri merawat budak yang telah tua; sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Hal yang seharusnya dilakukan adalah jangan memperbudak. Namun kekayaan Muhamad dan penguasa Islam justru berasal dari penjualan budak.

Sekarang saya akan menjawab kekuatiran anda mengenai tukar menukar istri. Saya menyebut hal tersebut sebagai perzinahan. Sekalipun dilakukan dengan sadar dan sama-sama suka. Pertanyaan anda adalah apa yang akan dilakukan oleh suatu masyarakat yang tidak beragama. Jawaban saya sama dengan jawaban Pierre Trudeau di hadapan parlemen Kanada. Dia berkata, “negara tidak boleh mencampuri urusan kamar tidur penduduk.” Ia menyampaikan hal tersebut 30 tahun yang lalu dan pemerintah Kanada mendengarkan. Namun saya tidak pernah melihat orang-orang senegara saya menawarkan istri mereka kepada orang lain.

Sejujurnya bukan urusan saya atas apa yang tetangga saya lakukan. Seperti yang dikatakan muslim: saya tidak mau terkubur bersama mereka. Lantas mengapa kita membahasnya?

Sekarang mari kita lihat negara Islam dimana pemerintah mengatur kehidupan pribadi penduduknya. Ibu-ibu yang memiliki anak diluar nikah dirajam batu sampai mati dengan cara yang paling sadis. Apakah itu yang disebut bermoral? Orang dicambuk karena meminum bir. Wanita dipukuli sampai berdarah karena selendang mereka tersingkap sehingga rambut mereka terlihat di muka umum. Tolong katakan kepada saya moralitas mana yang lebih baik?

Sebagai penutup, kita harus membedakan antara apa yang immoral dan apa yang tidak etis. Masalah moralitas harus diserahkan kepada individu; masalah etika harus diajarkan di sekolah dan ditegakkan melalui hukum atau kode etik. Apakah berganti-ganti pasangan itu immoral atau tidak etis? Jawaban atas bagian pertama bergantung pada siapa anda. Jika anda berada dalam kelompok ultra liberal negara barat atau penganut Islam, mungkin hal tersebut bukanlah hal immoral. Ini berkaitan dengan selera, budaya dan didikan. Kita tidak boleh terpaku pada sisi moral saja. Apa yang dilakukan oleh orang dewasa di dalam kamarnya bukanlah urusan kita. Pertanyaannya adalah: apakah hal tersebut etis?

Jika berganti-ganti pasangan di-sah-kan misalnya melalui poligami, apakah hal tersebut tetap immoral? Mereka yang melakukannya mungkin tidak terlalu memusingkannya, tetapi hal tersebut tetap saja tidak etis. Pernikahan adalah institusi sosial yang pengaruhnya lebih luas daripada hanya kepada dua orang yang bersumpah setia. Bukan hanya anak-anak tetapi seluruh masyarakat akan ‘dipaksa’ untuk mendukung keluarga yang berubah jadi tidak berfungsi. Masyarakat harus membayar biaya pendidikan anak-anak, makanan mereka, pakaian mereka dan juga menanggung akibat atas sampah masyarakat yang kemungkinan besar akan dihasilkan oleh keluarga yang berantakan tadi. Poligami harus dilarang bukan karena immoralitasnya, sesuai dengan uraian kita tadi bahwa hal tersebut adalah masalah individu, tetapi karena poligami itu tidak etis. Hal tersebut membahayakan anak-anak dan masyarakat.

Apa yang disebut moral tidak bisa didefinisikan dengan mudah. Moral religius terlihat tidak etis lagi. Apa yang kita anggap bermoral berlawanan dengan agama. Poligami, perbudakan, pengorbanan hewan, perkawinan dengan anak kecil dan lainnya tidak termasuk hal immoral dalam islam. Tapi wanita yang bepergian sendiri, tidak memakai hijab atau memasuki lift bersama seorang asing disebut immoral.

Karena itu moralitas harus diserahkan kepada masing-masing dan bisa berubah-ubah. Namun masalah etika harus didefinisikan. Nilai-nilai etis berdasarkan logika dan Golden Rule. Keduanya bersifat universal dan tidak akan berubah secara intinya, apa yang melukai orang dan mengganggu hak mereka itu tidak etis. Pada kenyataannya, binatangpun memiliki hak dan suatu masyarakat yang etis harus melindungi dan menghargai binatang.

Moralitas agama adalah moralitas orang jaman dulu. Masyarakat patriarki menerapkan kode moral terhadap wanita yang memberikan kendali kepada para pria atas istri mereka. Moralitas agama tidak berasal dari surga. Hal tersebut hanya menggambarkan rasa takut dan sifat posesif para pria yang menciptakan aturan tersebut. Islam mewajibkan hijab. Apakah hal ini berkaitan dengan ketakutan Muhamad sebagai orang yang mulai tua dalam mengendalikan para istrinya yang masih cantik dan melindungi mereka dari mata pria muda yang dianggapnya sebagai saingan? Dia terus menerus menekankan pentingnya kepatuhan terhadap suami. Apakah ini ada hubungannya dengan kenyataan bahwa sebagian besar istrinya adalah anak remaja yang masih berjiwa pemberontak sehingga harus dikendalikan?

Moralitas adalah sesuatu yang pribadi dan sesuatu yang seharusnya diajarkan oleh para orang tua kepada anak-anaknya. Tetapi moralitas sejati tidak berasal dari doktrin dan kepercayaan kuno. Sangat menyedihkan bahwa ada yang membuat moralitas menjadi tawanan agama. Sangat absurd memaksakan moralitas dari suatu budaya yang telah lalu terhadap masyarakat modern saat ini. Moralitas diperoleh dari kesadaran manusia dan kepekaan rohani. Semakin kita dewasa, tindakan kitapun semakin baik. Kita tidak hidup dalam moralitas demi kerakusan atau ketakutan akan hidup setelah kematian. Kita berlaku moral karena moral meningkatkan kehidupan kita. Moralitas harus menjadi bagian kehidupan kita, sama seperti pengetahuan menjadi bagian dari diri kita. Moralitas sejati tidak pernah bertolak belakang dengan etika.

Etika sangat sedikit dipengaruhi agama. Seperti kata Gandhi, etika adalah persoalan ekonomi. Pertanyaannya adalah dimana kita akan menginvestasikan energi kita untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Jika anda menginvestasikan energi dalam kenikmatan seksual anda akan memperoleh hasil yang sementara. Jika anda menginvestasikannya di dalam hal-hal yang berarti anda akan mendapatkan kepuasan yang lebih besar.

Hidup dalam moral yang baik tidak berarti menghilangkan kenikmatan. Hidup tanpa rasa syukur bukanlah hidup. Semua merupakan pilihan. Apa yang kita pilih sebagai kesenangan kita? Itulah pertanyaan yang penting. Seseorang yang menginvestasikan energinya dalam melayani kemanusiaan mendapat kepuasan yang lebih besar daripada orang yang berkubang dalam pencarian kesenangan duniawi.

Tetapi sekali lagi ini adalah pilihan pribadi, didasarkan pada kematangan dan pemahaman spiritual. Moralitas tidak seharusnya dipaksakan oleh otoritas yang lebih tinggi seperti negara atau agama. Moralitas yang dipaksakan bukanlah moralitas. Seseorang yang menjalani hidup dalam moral karena takut pada neraka bukanlah orang yang bermoral karena ia tidak memilih perilaku tersebut secara bebas. Rasa takut dan kerakusan, merupakan metode dalam agama tradisional, yang dipakai sebagai insentif untuk memaksa orang menerima sistem moral tidak akan membuat suatu masyarakat yang bermoral. Tidak seorangpun dan tidak satu agamapun yang mampu memaksakan moralitas kepada orang lain. Pemaksaan sistem moral tidak etis. Agama yang mengancam pengikutnya dengan api neraka atau memancing mereka dengan janji-janji surga tidak akan menjadikan pengikut yang bermoral. Cemeti dan wortel memang berhasil dalam melatih binatang tetapi tidak dalam mendidik manusia. Hanya orang yang dapat memilih secara bebas dapat disebut sebagai orang yang bermoral.

Seorang yang bermoral memilih untuk hidup baik karena hal tersebut memberinya kepuasan. Orang yang jujur puas dalam perilaku jujurnya. Ia akan memilih disiksa daripada harus berbohong atau menipu. Moralitas kita berhubungan langsung dengan kematangan spiritual. Jika kita bertumbuh secara spiritual; pengetahuan, sumbangan kepada masyarakat dan bekerja untuk perdamaian akan memberikan imbalan yang jauh lebih besar daripada berkubang dalam kepuasan sensual. Tidak ada yang salah dengan kepuasan sensual. Tetapi kita mendapatkan kepuasan lebih dalam melakukan sesuatu kepada masyarakat dibandingkan dengan memuaskan diri kita sendiri.

Agama primitif memperlakukan anda seperti anak kecil (kalau bukan binatang). Mereka ingin memaksakan sistem moral yang sudah kadaluarsa dengan mengancam pengikutnya dengan api neraka dan menyuap anda dengan surga untuk menerima moralitas kuno dan kadang tidak etis. Entah anda hidup bermoral karena rasa takut dan kerakusan ini atau karena anda mendapatkan kepuasan dengan berperilaku moral, tetap saja ditentukan oleh kedewasaan dan kepekaan rohani.

Moralitas keagamaan tidak diturunkan dari langit. Moralitas keagamaan merupakan moralitas orang jaman kuno, cara pandang mereka dan (dalam kasus islam) tipu daya. Kita tidak membutuhkan moralitas orang jaman dulu sama seperti kita tidak membutuhkan teknologi, ilmu, dan pengobatan mereka. Moralitas mereka harus dikubur bersama dengan tulang mereka. Manusia modern harus membentuk moralitas sendiri. Moralitas harus berkembang sama seperti perkembangan pengetahuan dan kesadaran manusia.

Moralitas baru tidak berarti immoral. Artinya keluar dari masa kegelapan ketidakpedulian dan membangkitkan generasi yang lebih bertanggung jawab. Manusia tidak lagi dapat dibelenggu dengan rasa takut dan ancaman di kehidupan setelah kematian. Ilmu pengetahuan telah memberi cahaya terhadap absurditas konsep agama dan menggoncang fondasi dari kepercayaan yang dipegang teguh leluhur kita. Hari ini kita harus mendidik anak-anak kita dengan kesadaran. Mereka harus belajar bahwa umat manusia itu satu. Sama seperti orang tua kita mengajarkan kebohongan agama dan kita mempercayainya. Kita dapat mengajar anak-anak kita kebenaran dan mereka akan percaya.

Kita tidak perlu berbohong dan menakut-nakuti anak kita dengan api neraka untuk mendidik moral, cinta kasih dan perilaku mereka. Metode seperti itu tidak pernah berhasil. Sejarah manusia menjadi saksinya.

Jika kita mencintai anak kita, mereka juga akan belajar mencintai. Jika kita jujur, secara moral dan etika mereka akan belajar jujur. Kita dapat membangun manusia yang lebih baik dengan berperilaku manusiawi sekarang ini. Tetapi pertama-tama kita harus mengajar mereka cinta kasih.

Nah, ini cinta kasih ala Muhamad sehubungan dengan mereka yang non-muslim:

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, (9:14)

Seperti yang anda lihat, dasar kepercayaan Islam sangat tidak etis dan immoral. Kita tidak dapat menyembuhkan umat manusia sampai kita membuang kanker-nya. Kanker ini telah mencapai titik berbahaya yang akan membunuh kita. Pilihannya hanya umat manusia atau Islam. Umat manusia tidak akan memiliki masa depan selama penyakit ini tidak diobati. Islam harus dimusnahkan sekarang. Besok akan terlambat.

Bagaimana dengan agama lain:
Saya sadar bahwa banyak orang yang tergantung pada agama dan hidup bagi agama tanpa percaya pada tuhan yang berpribadi dan janji pada kehidupan setelah kematian. Saya ingin menekankan bahwa peperangan saya ini tidak dilakukan terhadap seluruh agama. Saya lihat anda menarik kesimpulan bahwa menolak Islam berarti menolak seluruh agama yang ada, tuhan dan kemudian moralitas. Tidak demikian! Saya bukan seorang yang religius dan tidak membutuhkan satu agama untuk hidup secara etis dan bermakna. Saya percaya hidup saya cukup bermakna dan usaha saya untuk mempersatukan umat manusia serta merintis jalan menuju perdamaian dengan menghancurkan penghalang terbesar menuju perdamaian (islam) adalah pengabdian terbesar yang dapat saya lakukan.

Namun, memang banyak orang yang membutuhkan agama dan saya menghargai itu. Perlawanan saya hanya tertuju kepada Islam. Bukan karena Islam adalah agama, justru karena ISLAM BUKAN AGAMA. Islam adalah politik yang dibungkus dengan agama. Islam merupakan alat dominasi dan penaklukan. Islam memakai agama sebagai topeng untuk menelusup dan menaklukkan.

Jika orang meninggalkan Islam, mereka bisa memilih satu dari berbagai agama yang ada, atau memilih seperti saya yang tidak beragama. Jadi tidak perlu panik. Kekosongan karena meninggalkan Islam akan segera terisi karena ada banyak agama dan filosofi di dunia ini. Banyak muslim yang meninggalkan Islam dan mereka pasti dapat memberi tahu anda bahwa mereka sekarang lebih berbahagia.

Jika Islam mati, doktrin kebencian akan mati pula. Sama seperti membuang sel kanker. Hal ini berarti kebebasan bagi muslim dan suatu kesempatan baru untuk mengasihi seluruh umat manusia. Mereka akan memiliki kebebasan untuk merangkul saudara saudari mereka dalam kemanusiaan dan kasih sayang. Tidak ada lagi muslim lawan kafir. Tidak ada lagi "kita" lawan "mereka".

Hal ini akan menjadi kelahiran baru bagi umat manusia seutuhnya. Kita akan menjadi satu, berbagi planet yang sama. Planet satu-satunya untuk hidup! Tidak ada lagi selain bumi yang mampu menampung manusia. Planet yang kecil ini, permata biru yang menggantung di tengah semesta yang kelam dan dingin adalah satu-satunya rumah kita. Jangan hancurkan demi suatu kebohongan.

Jika anda harus memiliki sebuah agama, mengapa memilih agama yang isinya kebencian melulu ?

Salam,
Ali Sina

BAGIAN II TAMAT

 BAGIAN III
Umat Manusia vs. Muhammad bin Abdallah

http://www.faithfreedom.org/debates/Shahzad3.htm
PEMERKOSAAN-BAGIAN I

Nov 20, 2003

Terdakwa: Muhammad bin Abdallah
Pembela: Raheel Shahzad
Perkara: Umat Manusia (Dunia non-Muslim)
Jaksa: Ali Sina

Sidang pengadilan: Opini publik
Jury: Anda
---------------------------------------------------------------------- ---------------

Dari Raheel Shahzad kpd Ali Sina

Anda menulis:

Untuk kesempatan sidang selanjutnya, saya mengundang anda untuk membantah tuduhan saya bahwa Terdakwa/Muhamad adalah pemimpin bejat (termasuk terlibat dalam tindakan PEMERKOSAAN). Saya menuduh derajat moralnya rendah sehingga ia tidak mungkin seorang nabi yang dikirim dari Atas. Ia hanyalah seorang pemimpin sekte yang kejam, yang memanfaatkan orang-orang bawahannya untuk memenuhi nafsu dan ambisi pribadinya.

Mr Sina, ini hanyalah masalah interpretasi yang sebenarnya merupakan inti kasus ini. Jadi untuk anda sampai pada kesimpulan sebelum menjelaskan kedudukan kasus dengan jelas dan tidak hanya berdasarkan artikel2 simplistik dari sana sini, atau berdasarkan material yang ditolak oleh sebagian besar Muslim, tidaklah bijaksana.

Kita akan membahas tuduhan anda satu-persatu.

Anda menulis:

Dalam link2 berikut ini saya sampaikan tuduhan saya dengan cukup bukti.

Juwayriah
http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/Juwairiyah.htm

Safiyah: isteri Yahudi Muhamad
http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/safiyah.htm

Adopsi dalam Islam dan perkawinan Muhamad kepada Zainab Bint Jahsh.
http://www.faithfreedom.org/Articles/SKM/zeinab.htm

Mariyah, Budak Koptik Muhamad
http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/mariyah.htm

Propaganda seorang apologist/liberalis: jawaban langsung
http://www.faithfreedom.org/Articles/abulkazem/reply_to_apologist.htm

Tolong semuanya dibaca.


Saya telah lakukan itu. Menikah berkali2 dalam masyarakat jaman ini
ini merupakan problem moral dan banyak muslim tidak mempraktekkannya. Mereka punya akal sehat untuk membedakan apa yang harus diikuti dan apa yang tidak diterima oleh standar masyarakat kini. Kebanyakan negara Islam yang maju juga tidak memperbolehkan perbudakan.

Amerika mengakhirinya 140 tahun yang lalu, meskipun ini tetap terjadi dan dilakukan oleh kaum kristiani. Akibatnya masih dirasakan oleh kaum Afrika-Amerika sampai saat ini, namun akan makan waktu lebih lama lagi untuk menghilangkan akar2 rasisme. Nilai moral berubah. Begitu pula dalam Islam. Muslim mampu menyadarinya. Maka, daripada saya meminta maaf (seperti yang dilakukan orang pada artikel ke-5), saya benar2 percaya bahwa sang nabi telah menikah 12 kali, mungkin juga lebih, seperti banyak ditemukan dari beberapa sumber yang tak jelas.

Dan diapun menikahi seorang budak, mungkin lebih dari satu. Thomas Jefferson juga mempunyai budak. Saya menduga bahwa semua bapak pendiri Amerika mempunyai budak. Namun sekarang apa yang bisa kita lakukan? Hanya karena Jefferson dan Washington tidak mengaku sebagai nabi, maka Muhamad harus dianggap sebagai orang yang
memiliki moral yang lebih tinggi?

Pertanyaan saya adalah, mengapa? Apakah 1400 tahun lalu ada peraturan bahwa menikah beberapak kali adalah tidak bermoral? Mempunyai budak 1400 tahun lalu adalah kejam ? Apakah perbudakan 200 tahun yang lalu di Amerika dianggap immoral? Kata siapa? Praktek tersebut sangat umum dilakukan dan nilai moral masyarakat pada waktu itu pun berbeda.

Maka apakah jika Muhamad menikahi 12 wanita, atau 35, atau 400 wanita sekaligus adalah tindakan yang salah? Muhamad menikahi banyak wanita dan anda bisa memilih jumlah yang anda sukai karena angka tidaklah penting. Ia menunjukkan bahwa waktu itu praktik tersebut memang umum dilakukan. Jadi apa maksudnya menyerang poligami dan kepemilikan budak?

Bahkan jika anda menyampaikan 13.000 artikel mengenai hal ini, apa yang mau anda buktikan? Saya menyatakan tanpa rasa penyesalan bahwa ia menikah beberapa kali dan menikahi budak dengan tetap mengikuti kebudayaan yang normal pada jaman itu. Dan kebanyakan pria muslim tidak berbuat seperti itu karena adanya perubahan nilai moral saat ini tentang kehidupan perkawinan.

Mengikuti Sunnah bukan berarti harus menikahi 12 wanita, malahan pria muslim hanya bisa menikah 4 kali, yang sifatnya lebih untuk menghindari semangat para pria muslim untuk meniru nabi. Maka Sunnah ini sebenarnya tidak bisa dilakukan.

Muslim sering memiliki akal sehat dan wanita saat ini pun tidak akan menerima jika dijadikan isti kesembilan, walau sang pria beralasan mengikuti Sunnah nabi. Banyak wanita muslim seperti di Pakistan akan ngamuk jika suaminya mulai bermain mata dan menyimpan budak.

Tuduhan anda bahwa Muhamad menikahi banyak wanita hanya membuktikan satu hal, bahwa ia memang menikah berkali-kali dan mempunyai budak. Menyamakan nilai moral saat ini padanya adalah perbuatan yang tidak adil, bukan hanya pada Nabi , namun juga pada semua bapak pendiri Amerika.


Pertanyaan saya pada anda:
1. Apakah anda setuju bahwa mempersoalkan masalah poligami di tahun 2003 ini, kemudian memperdebatkan masalah praktek perkawinan pada jaman Arab kuno adalah berlebih-lebihan?

2. Apakah anda setuju bahwa persoalan moral untuk nilai2 perkawinan harus dilihat berdasarkan waktu dan tempatnya dalam sejarah?

3. Apakah anda setuju bahwa penghapusan perbudakan di negara2 maju diakibatkan karena berubahnya nilai moral sejalan dengan berlalunya waktu?

4. Apakah anda setuju perkawinan Nabi tidak melanggar nilai moral pada masanya, dan poligami pada jaman sekarang dilakukan oleh
muslimin di desa-desa tertinggal?

5. Apakah anda setuju bahwa menikahi budak adalah sesuatu yang tidak menyalahi moral pada 1400 tahun yang lalu, namun ada perubahan besar pada prakteknya pada jaman sekarang di negara2 muslim?


JADI, Saya telah berusaha sejujur mungkin menanggapi Mr. Ali dalam isu poligami. Dari pengalaman saya, pernikahan dengan 12 wanita tidak lagi terjadi pada muslim jaman sekarang, dan jikapun ada, itu adalah pengecualian.

Ahl-e-Sunnat sendiri telah membuktikan bahwa mereka tidak hanya mengikuti praktek ini, dan hanya menyetujui bahwa sang nabi mengikuti kebiasaan yang umum pada jamannya. Mengapa kafir terus mempermasalahkan hal ini? Kami para muslim tidak mengikutinya.

Saya rasa dalam setiap bahasan saya hanya bisa mengatakan, “Menang benar (Muhamad berpoligami dan mempunyai budak), memangnya kenapa?” Apakah saya harus menjadi ateis karenanya?


Anda menulis:
Ada lebih dari 1 milyar muslim di dunia ini, mengapa tidak ada satupun dari mereka yang mampu membuktikan bahwa tuduhan saya salah?

Ini hanyalah masalah perspektif.
Mungkin karena anda membuat 2 peraturan dasar tentang perdebatan ini:
1. Saya selalu benar.
2. Jika saya salah, lihat peraturan no 1.

Saya tidak menggunakan prinsip ini, saya ingin menyanggah dan banyak hal yang saya dapat pelajari dan betulkan. Namun dalam salah keyakinan, tidak ada area hitam atau putih, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Maka bagi saya, kepercayaan diri dan keras kepala adalah hal yang berbeda.


---------------------------------------------------------------------- ---------------
DARI ALI SINA KEPADA RAHEEL SHAHZAD

Yth Mr. Shahzad,

Nampakya anda tidak membaca artikel yang saya berikan, atau tidak mengerti inti masalahnya. Seluruh argumen anda berkisar pada : muslim sekarang tidak lagi mempraktekkan poligami. Ini tidak relevan !

Masalah yang saya persoalkan tidak sekedar memperdebatkan jumlah wanita yang dinikahi Muhamad. Masalahnya adalah : RENDAHNYA MORAL MUHAMAD SAMPAI TERLIBAT PEMERKOSAAN ! Muhamad menyerang rakyat tidak bersalah tanpa peringatan, membunuh semua pria, mengambil wanita tercantik dan menyetubuhinya pada hari yang sama ia membunuh suami, ayah, dan semua orang yang disayanginya. Ini terjadi pada Juwairyah, Rayhanah dan Safiyah. TUGAS ANDA SEBAGAI PEMBELA ADALAH UNTUK MEMBUKTIKAN BAHWA MUHAMAD BUKAN SEORANG PEMERKOSA. Anda ternyata tidak sanggup !

(guobloggg si Pembela ! sorry ... ini hanya komentar ali5196)


RAYHANAH

Tentang Rayhanah, hanya sedikit data yang tersedia. Kita hanya mengetahui bahwa ia adalah anggota dari suku Yahudi, Bani Qurayza. Muhamad menutup jalur sumber air, mengepung kotanya dan ketika se-isi kota menyerah, ia memerintahkan pemenggalan kepala semua pria, merampas harta mereka, termasuk istri dan anak2 mereka dijual sebagai budak. Rayhanah adalah wanita tercantik di sukunya, dan ia menjadi budak seks Muhamad. Ia menolak menikahi pembunuh rakyatnya, namun harus menerima penghinaan untuk diperkosa penawannya, sang nabi besar Allah.


JUWARIYAH

Dalam sejarah bangsa Arab masa pra-Islam, belum pernah ada
pergolakan dan perang yang luas dan tingkat kedahsyatannya separah yang dilancarkan Muhamad, sang pendiri Islam. Pertempuran sebelumnya hanya merupakan pertempuran lokal yang terbatas pada percekcokan antar suku. Dengan lahirnya Islam, tidak hanya perang tetapi GENOCIDE dan TEROR tidak habis2nya menjadi komponen integral dalam sejarah ekspansionisme Islam.

Pada awal karir Muhamad sebagai nabi, kota asalnya (Mekah) adalah kota yang damai. Dalam 13 tahun ia berkotbah, hanya sekitar 70/80 orang mengikuti ajarannya. Tidak semuanya jago perang. Ini menjelaskan sejarah awal penyebaran Islam yang damai. Muslim belum
mempunyai kekuatan untuk menyerang. Namun setelah Muhamad bermigrasi ke Medinah dan penduduknya menerima ajarannya, ia memulai perampokan karavan pedagang dan penyerbuan kampung-kampung penduduk untuk bertahan hidup, selain menghidupi pengikutnya yang sulit mencari pekerjaan di Medinah.

Tahun ke 5 hijrah di Medinah merupakan tahun menentukan. Ini tahun dimana Muslim berperang melawan penduduk Mekah dan mengepung perkampungan Yahudi, Bani Qaynuqa, yang terkenal dengan penduduknya yang kaya, yang pengrajin emas dan besi. Setelah merebut rumah dan ladang anggur mereka, mereka diusir dari kediaman mereka. Setelah itu ia menyerang kantung Yahudi lainnya, Bani Nadir. Hal yang sama terjadi pada mereka. Muhamad membunuh pemimpin suku dan banyak pemudanya, merampas harta mereka dan kemudian mengusir mereka dari Medinah. Dalam dua penyerbuan tersebut, suku Yahudi tidak memberikan sedikitpun perlawanan. Mereka diserbu secara tiba-tiba, dan mau tidak mau harus menyerah kepada pasukan Muhamad yang lebih kuat.

Mabuk kemenangan atas orang-orang tak berdaya, Muhamad berniat mengulanginya dengan suku Yahudi lain diluar Medina, kali ini giliran Bani al-Mustaliq.

BUKHARI, biografr Muhamad, mengisahkan penyerbuan tersebut dalam hadis;
"
Diriwayahkan Ibn Aun:
Saya menulis surat pada Nafi dan Nafi menceritakan bahwa nabi secara tiba-tiba menyerbu Bani Mustaliq ketika mereka lengah, ketika mereka sedang memberi minum ternak mereka. Mereka yang melawan dibunuh. Nabi mendapatkan Juwairiya pada hari itu."

Volume 3, Book 46, Number 717:

Hadis yang sama ini dicatat kembali dalam Sahih Muslim Buku 019,
Nomorr 4292, yang memperkuat otentisitas hadis dan peristiwa tersebut.

Muhamad mencontek agamanya dari paham Yudaisme dan berharap kaum Yahudilah yang pertama menjadi pengikutnya. Namun
mereka sama sekali tidak tertarik pada agama bawaan Muhamad itu. Ia tidak pernah memaafkan mereka karenanya. Begitu marahnya ia pada mereka sehingga ia pun mengubah arah kiblat dari Yerusalem ke Kabah, yang waktu itu hanyalah sebuah kuil pemujaan dewa. Muhamad dalam kemarahannya mengatakan bahwa
Allah akan mengutuk
Yahudi menjadi monyet dan babi karena menolakNya
(Q. 5:60 dan 2:65). Ia pun menjadikan kaum Yahudi kambing hitam sbg alasan untuk mencari pengikut.

Ia jeli menggunakan taktik adu domba (devide et impera) antara kaum Arab Medinah yang miskin dan bodoh, yang bekerja di kebun anggur milik kaum Yahudi, dengan majikan mereka sendiri. Kaum Arab ini adalah imigarn dari Yemen, sementara kaum Yahudi sudah tinggal di Medinah selama 2000 tahun. Dengan merampas harta majikan, menjual majikan mereka kepada perbudakan untuk tambahan harta, para pekerja ini diyakinkan bahwa perbuatan mereka bukan saja “benar” namun diridhoi oleh Allah. Muhamad telah mendapatkan agama yang sangat menguntungkan dan memulai penyebarannya dengan perang.

Muhamad mengirim salah satu pengikutnya, Bareeda bin Haseeb, untuk mematai-matai Bani al-Mustaliq dan memberitahukannya jika
keadaan menguntungkan.

Petikan dari salah satu situs Islam:
Kedatangan pasukan Muslim membuat panik Haris, ia dan pengikutnya melarikan diri. Meskipun begitu penduduk Muraisa mencoba mati-matian mempertahankan diri. Muslim menyerang secara tiba2. Banyak korban jiwa melayang, dan lebih dari 600 orang ditawan. Hasil rampasan mencakup 2000 onta dan 5000 kambing.

Diantara tawanan perang, terdapat Barra, anak dari Haris, yang kemudian dinamai nabi [b]Hazrat Juwairiyah
, atau istri nabi yang mulia.

Dalam prakteknya, harta rampasan dan tawanan dibagikan antara pasukan muslim. Hazrat Juwairiyah dimiliki oleh Thabit bin Qais. Karena wanita ini adalah anak pemimpin suku dan terlalu hina untuk menjadi budak seorang prajurit muslim, maka ia meminta untuk dibebaskan dengan tembusan uang. Thabit menyetujuinya jika ia memunyai 9 keping emas, namun karena Hazrat Juwairiyah tidak punya apa2 (hartanya telah dirampok), ia pergi menghadap Muhamad untuk meminta bantuan agar diselamatkan dari penghinaan ini. "Saya memohon anda agar melakukan satu tindakan berdasarkan belas kasihan dan menyelamatkan saya dari hinaan ini. HATI NABI MENJADI TERGERAK dan berkata apakah ia ingin hal yang lebih baik. Juwariyah bertanaya apa maksudnya. Nabi berkata bahwa ia akan membayar uang tersebut pada Thabit dan meminta Juwairiah menjadi istrinya. Hazrat Juwairiyah kemudian menyetujuinya.”[/b]www.trueteaching.com


Kisah tersebut menceritakan pernikahan nabi dengan Juwariah. Yang menarik, Muhamad membuat Allah berkata bahwa ia ”mempunyai moral yang maha mulia " (Quran 68:4).” dan ”sebenarnya nabi adalah contoh sempurna untuk diikuti (Quran 33:21).”
Pertanyaannya adalah, benarkah ini?

Pertama, ia menyerang penduduk tanpa peringatan karena mereka sasaran yang mudah dan kaya. Seperti biasa, ia membunuh semua pemuda yang sehat yang tak bersenjata, merampas harta benda dan memperbudak sisanya. Apakah ini perbuatan Nabi Tuhan?
Praktek tawanan perang, perbudakan dan pembagian harta perang antara pasukan muslim ini adalah pola prilaku para Mujahidin Muslim selama sejarah berdarah Islam. Pertanyaan saya tetap sama, inikah prilaku Nabi Tuhan? Allah malah mengatakan bahwa ia adalah ”rahmat bagi alam semesta”. Pemimpin otoriter dan penjahat biadab namun RAHMAT BAGI ALAM SEMESTA ????

(tunggu ... gua pingin muntah dulu ! "Owekkkk .... oweekkkk ..." ali5196)

Kalau ini memang praktek umum kaum jahiliyah, apakah Nabi Rahmat Alam Semesta ini tidak dapat mengubahnya? Kenapa ia terlibat dengan peristiwa maha biadab ini? Apakah ia hanya mengikuti kebiasaan saat itu atau IA-LAH YANG MEMBERI CONTOH KEPADA PENGIKUTNYA ?

Sangatlah jelas bahwa HATI MUHAMAD TIDAK TERGERAK oleh belas kasihan, namun oleh nafsu birahi. Ia tidak membebaskan Juwariah karena kasihan. Ia mengiginkan Juwariah untuk dirinya. Ini adalah contoh dari pria yang harus diikuti 1,2 milyar pengikutnya.


Cerita selanjutnya tentang Juwariyah penuh dengan campuran isapan jempol dan cerita yang dilebih-lebihkan yang banyak mewarnai Hadis.

Diceritakan bahwa nabi setelah peristiwa penyerbuan itu, bertolak kembali ke Medinah dan menyerahkan Juwairiah dalam pengawasan pengikutnya. Ayahnya menyadari bahwa anaknya ditawan, bergegas membawa tebusan, namun di tengah jalan menyembunyikan 2 untanya di jalan dekat al-Aqia. Ia datang kepada nabi lalu berkata, ”anakku terlalu terhormat untuk dijadikan tawanan, bebaskanlah dia dengan tebusan ini” Nabi berkata, “Bagaimana jika ia kita suruh pilih sendiri?” lalu ia datang menemui anaknya lalu berkata, “Ia menyuruhmu memilih, jangan jatuhkan kehormatan kita”, lalu anaknya menjawab dengan tenang, “Aku memilih nabi”. al-Harith dengan marah berkata, ”Ini suatu penghinaan!.”
Lalu nabi berkata,”dimanakah unta yang kau sembunyikan di jalan ini sebelah ini di dekat al-Aqia?” al-Harith terkejut dan berkata, ”Saya menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah nabi Allah, tidak ada yang lain yang dapat mengetahui hal ini selain Allah”


Ibn-i-S'ad dalam 'Tabaqat', menceritakan bahwa setelah ayah Juwariyah memberikan tebusan dan membebaskannya, nabi menikahinya, dan semua tawanan dibebaskan oleh prajurit muslim, karena mereka tidak suka melihat anggota keluarga orang dari istri nabi, dijadikan budak.

Sulit menilai kebenaran cerita ini. Di satu sisi diceritakan bahwa Muhamad membayar tebusannya pada Thabit, sedangkan yang lain menceritakan bahwa ayahnyalah yang membayar tebusannya. Juga diceritakan tentang kemampuan Muhamad untuk menebak masa depan, seperti yang terjadi dengan unta yang disembunyikan. Ini membuat sulit dipercaya, karena pada banyak kesempatan lain, Muhamad sering menunjukkan hal sebaliknya. Misalnya, sering ia harus menyiksa seseorang sampai hampir mati dahulu untuk mengetahui dimana harta kota disembunyikan.

Dalam cerita ini pun masyarakat Arab menunjukkan tingkatan moral yang lebih tinggi dari sang nabi dengan secara sukarela membebaskan tawanan mereka setelah mendengar Muhamad menikahi putri kepala sukunya. Muslim pun menyatakan bahwa Juwairiyah menjadi penganut yang taat, dan seringkali menghabiskan waktu seharian untuk bersholat. Penulis dalam Usud-ul-Ghaba menyatakan bahwa ketika nabi mendatangi Juwairiyah sering ia mendapatinya sedang bersholat, dan ketika ia kembali pun Juwairiyah masih bersholat, sampai akhirnya nabi pun berkata, ”Kamu lebih banyak bersholat sehingga membuat timbangan menjadi lebih berat ke satu sisi.”

Mari kita melihat kisah ini secara lebih realistis. Bayangkan anda dalam posisi Juwariah, wanita muda yang jatuh ke tangan pembunuh suami yang juga sepupunya, dan pembunuh massal rakyat sukunya. Tanpa pegangan hidup lain dan tak ada jalan untuk melarikan diri, opsinya hanya menyerah dan menjadi budak seks seseorang yang menjadi pemimpin para penyerangnya. Juwairiah terpaksa memilih opsi ini dan mencoba bertahan. Tak heran ia selalu didapati Muhamad dalam keadaan sibuk bersholat dengan harapan ia akan meninggalkannya sendiri dan mendapat kesenangan dari istrinya yang lain. Namun Muhamad adalah orang tua licik. Dengan menyindirnya ”berat sebelah dalam timbangan”, ia merampas alasan Juwariah untuk menghindari nafsu sex Muhamad.



SAFIYAH

Safiyah Bint Huyeiy Ibn Akhtab adalah wanita Yahudi berumur 17 tahun ketika pasukan Muslim menyerang Khaibar dan membawanya pada nabi sebagai bagiannya dalam harta rampasan. Kisah ini termuat dalam buku TABAQAT dan terdapat juga dalam situs Islam yang terpercaya.
http://www.prophetmuhammed.org/
(ketika penulisan ini dibuat banyak situs Islam memuat kisah ini, namun sekarang sudah tidak lagi, walaupun demikian kisah ini cukup mudah dicari dalam hadis).

“Safiyah lahir di Medinah, dibesarkan oleh suku Yahudi Banu 'I-Nadir. Ketika sukunya terusir dari Medinah, A.H. Huyaiy adalah salah seorang yang tinggal bersama-sama di Khaibar dengan Kinana ibn al-Rabi', pria yang menikahi Safiyah tak lama sebelum Muslim menyerang perkampungan baru tersebut. Ia berumur 17 tahun. Ia sebelumnya adalah istri dari Sallam ibn Mishkam, yang menceraikannya. Satu mil jauhnya dari Khaibar, sang nabi menikahi Safiyah. Ia dipersiapkan dan didandani oleh Umm Sulaim, ibu dari Anas ibn Malik. Disana mereka berdua bermalam.

Abu Ayyub al-Ansari menjaga tenda sang nabi semalaman dan ketika fajar, nabi melihatnya terus berjaga-jaga. Nabi bertanya alasanya dan ia menjawab, ”Saya khawatir tentang wanita ini denganmu. Anda telah membunuh suami, ayah dan banyak kerabatnya dan sampai saat ini ia masih kafir. Saya sangat menghawatirkan pembalasan darinya.”

Safiyah dikatakan meminta agar nabi menunggu untuk menikahinya di lokasi yang lebih jauh dari Khaibar dengan alasan masih banyak Yahudi yang berkeliaran di sekitarnya. Alasan sebenarnya Safiyah menolak
sangat jelas. Ia memilih untuk berduka daripada harus naik ranjang pada hari yang sama suami, ayah, dan keluarganya terbunuh oleh orang yang
ingin menyetubuhinya. Sikap nabi Allah, yang berumur 57 tahun ini, yang tak dapat menahan birahi untuk satu hari saja dan mengijinkan gadis muda ini berkabung, menunjukkan cara berpikir dan derajad moralnya.


Sejarawan muslim pun mencatat bahwa perkawinan terjadi satu hari setelah Muhamad menyetubuhinya. Ini bukanlah masalah untuk nabi karena Allah telah mengeluarkan ayat yang memperbolehkan hubungan seksual dengan para budak tanpa perkawinan, meskipun mereka telah menikah. “dan semua wanita yang telah menikah (terlarang untukmu) kecuali (budak) yang kamu miliki…(Q. 4:24)

Ayat diatas menunjukkan bahwa nabi tidak mengganggap bahwa budak mempunyai hak apapun. Anda bisa saja wanita yang telah menikah dan berbahagia, namun jika Muhamad dan para pengikutnya menyerang kotamu, kamu akan kehilangan semua hak yang kamu punya dan sementara suamimu dibunuh atau diperbudak, Anda dapat diberikan pada seorang Mujahidin Muslim yang memperkosamu dengan bebas dengan ridho Allah.


Mari kita lanjutkan kisah Safiyah.

Ketika ia dibawa bersama tawanan lainnya, Nabi berkata,”Safiyah, ayahmu selalu memusuhiku, sampai akhirnya Allah sendiri yang menghukumnya.” Dan Safiyah berkata, “Bukankah Allah tidak akan menghukum seseorang karena kesalahan orang lain?”
"Yakni, bahwa tidak ada pendosa yang dapat dibebani oleh beban dosa pendosa lainnya” Q. 53:3Cool

Ini tentu saja bertolak belakang dengan perbuatan Muhamad yang menumpas seluruh Bani Qainuqa dengan dalih mereka membunuh seorang muslim. Dan bukannya Allah yang membunuh ayah Safiyah, melainkan pengikut Muhamad. Hitler saja tidak pernah mengklaim bahwa Tuhanlah yang membantai kaum Yahudi dalam PD II.

The Prophet then gave her the choice of joining her people after freedom or accepting Islam and coming into a matrimonial relationship with him. (Tabaqat)
(We have to remember that Muhammad killed most of her people and banished the rest of them. So giving the choice to join her people is not much of a choice. )

She was very intelligent and gentle and said, "O Allah's Messenger, I had hoped for Islam, and I confirmed you before your invitation. Now when I have the honour to be in your presence, I am given a choice between kufr and Islam I swear by Allah, that Allah and His Messenger is dearer to me than my own freedom and my joining with my people." (Tabaqat).

(Was this confession, if true, sincere? Was she safe to speak out her mind? She was enslaved by a man who had exterminated her family and could do with her the same. See the reference made to her "freedom". This shows clearly that she was not free. In fact she must have been very intelligent to fabricate those lies to save her own life. )

"Ketika Safiyah menikah, ia sangat muda, hampir 17 tahun, sangat cantik. Bukan hanya ia sangat mencintai Muhammad iapun sangat menghormati kenabiannya karena sebelum menikah, ia telah mendengar pembicaraan ayah dan pamannya tentang Muhamad ketika ia baru saja mengungsi ke Medinah. Salah seorang berkata, ”Bagaimana pendapatmu tentang dia?”, jawabnya,”Ia adalah benar nabi yang telah diramalkan oleh kitab kita”, lalu yang lain berkata, ”Lalu apa yang harus dilakukan?” jawabannya adalah mereka harus menentangnya sekuat tenaga. " (Tabaqat)

(Masuk akalkah cerita ini? Bagaimana mungkin 2 orang Yahudi yang mengenali Muhamad sebagai seseorang yang diramalkan dalam kitab mereka (TAURAT) dan kemudian memutuskan untuk MENENTANGNYA ? LOGISKAH INI ? Bukan hanya itu, dimanakah dalam Taurat disebut tentang Muhamad ? Bagaimanakah caranya paman dan ayah Safiyah dengan mudah menemukan ramalan tersebut dalam kitab mereka sedangkan selama 1400 tahun kaum terpelajar muslim tak mampu menemukannya?)

“Safiyah kemudian sadar akan kebenaran nabi. Dengan suka rela ia merawat, menyediakan kebutuhan dan menyenangkan nabi dengan berbagai cara. Hal ini jelas terlihat pada saat kedatangannya kehadapan nabi saat jatuhnya Khaibar.” (Tabaqat)

(Anda tidak melihat pernyataan2 bertentangan sang penulis muslim ? Tadinya ia mengatakan bahwa Safiyah ditawan dan diserahkan pada Muhamad sebagai tawanan. Itu berarti Safiyah tidak datang dengan suka-rela, namun ia dibawa ke hadapan sang nabi karena dia masih muda dan tercantik diantara tawanan lainnya.)

Bukhari juga mencatat pertemuan Muhamad dengan Safiyah dan pertempuran Khaibar dalam hadis.

Dinarasikan oleh 'Abdul 'Aziz:
"Kata Anas, ketika nabi menyerbu Khaibar orang2 di kota berseru “Muhamad dan pasukannya datang”. Kami mengalahkan mereka semua, menjadikan mereka tawanan dan harta rampokan dikumpulkan. Nabi membunuh para pria yang melawan, membantai anak-anak keturunan merekan dan mengumpulkan para wanita menjadi tawanan (Sahih Bukhari V.5 B.59 N.512).

Kemudian Dihya datang menghadap nabi dan berkata,” Oh Nabi Allah! Berikan aku seorang budak perempuan dari para tawanan.” Nabi berkata, “Pergilah dan ambil budak perempuan yang mana saja.” Ia lalu mengambil Safiya bint Huyai. Namun seorang pria datang pada nabi dan berkata,” Oh nabi Allah, kau memberi Safiya bint Huyai pada Dihya, sedangkan ia adalah istri pemimpin suku Quraiza dan An-Nadir, ia seharusnya adalah milikmu.” Maka nabi berkata,” Bawa dia bersamanya.” Maka Dihya pun datang bersama Safiya, dan nabi berkata,“Carilah budak perempuan lain dari antara para tawanan.” Kemdian nabi mengambil dan mengawini dia.

Thabit lalu bertanya pada Anas, “apa mahar yang diberikan sebagai mas kawinnya?” Ia berkata” dirinya sendiri merupakan mahar yang harus dibayar ketika nabi menikahinya. Di perjalanan Um Sulaim mendandaninya untuk upacara pernikahan, dan malamnya ia langsung diantar sebagai pengantin untuk nabi.” (Sahih Bukhari 1.367)

Mahar adalah uang yang diterima pengantin wanita dari pengantin pria saat pernikahan. Muhammad tidak membayar mahar karna ia harus membayarnya pada dirinya sendiri karena menikahi seorang budak. Tentu ironinya adalah ia tidak membeli Safiyah, namun memang memperbudaknya dengan cara menyerbu kota kediamannya. Kisah ini sangat signifikan dalam menilai moral dan etika dari seorag abi Tuhan.

Kisah yang membuat kita miris mendengarnya pada jaman sekarang, namun lagi2 Muhammad mengejutkan kita dengan ajarannya bahwa dengan menikahi Safiyah dia akan menerima 2 imbalan. Pertama, dengan menghindari mahar karena menikahi gadis budak yang diperbudaknya sendiri dengan sengaja, kedua ia dapat menikahi gadis tercantik yang 40 tahun lebih muda darinya.

Abu Musa pun melaporkan bahwa menurut Muhamad barangsiapa yang membebaskan seorang budak dan menikahinya, ia akan diberi 2 imbalan.


Sdr Pembela, anda mengajukan berbagai pertanyaan.
1. Apakah anda setuju bahwa mempersoalkan masalah poligami di tahun 2003 ini, kemudian memperdebatkan masalah praktek perkawinan pada jaman Arab kuno adalah terlalu berlebih-lebihan?

Saya setuju bahwa standar moral kaum Arab jaman dulu tidak bisa dbandingkan dengan standar saat ini.

2. Apakah anda setuju bahwa persoalan moral untuk nilai2 perkawinan harus dilihat berdasarkan waktu dan tempatnya dalam sejarah?

Saya menyetujui bahwa tingginya nilai moral seseorang dinilai berdasarkan masanya dan oleh orang-orang disekitarnya.

3. Apakah anda setuju bahwa penghapusan nilai2 perbudakan di negara2 maju karena berubahnya nilai moral sejalan dengan berlalunya waktu?
Saya setuju bahwa nilai moral berubah seperti yang telah dikatakan pada bagian 2, juga relatif berdasarkan waktu dan tempat.

4. Apakah anda setuju perkawinan Nabi tidak melanggar nilai moral pada masanya, dan poligami pada jaman sekarang dilakukan adalah sesuatu yang hanya dilakukan muslim di desa-desa tertinggal?
Saya tidak mengatakan bahwa tindakan Muhammad menikahi banyak wanita melanggar nilai etika pada jamannya. Dan memang benar, poligami saat ini tidaklah dipraktekkan oleh sebagian besar muslim.

5. Apakah anda setuju bahwa menikahi budak adalah sesuatu yang tidak menyalahi moral pada 1400 tahun yang lalu, namun ada perubahan besar pada prakteknya pada jaman sekarang di negara2 muslim?
Pada akhirnya saya pun mengerti bahwa meniduri gadis budak 1400 thun yang lalu di Arabia tidak dianggap imoral. Dan memang benar banyak Negara muslim tidak memperbolehkannya pada saat ini.

Seperti anda lihat, saya menyetujui seluruh poin anda diatas. Namun saya tidak menyetujui bahwa argumen anda membebaskan sang nabi dari tuduhan PEMERKOSAAN.

Inti permasalahan yang anda lewati adalah bahwa Muhamad mengklaim diri sebagai nabi Tuhan untuk segala zaman dan semua bangsa. Ia memperkenalkan diri sebagai Nabi Terakhir dan Yang Terbaik dari Semuanya. Ia bersikeras bahwa ia mempunyai ”moral yang maha mulia” 68:4, dan ia adalah, “contoh yang harus diikuti” 33:21, ” Maha pengampun semua mahkluk” 21:107 dan ”Nabi ang paling terhormat” 81.19.

Namun berdasarkan apa yang telah kita telusuri, ternyata tidak begitu adanya.

Apakah contoh yang diberikan Muhamad dalam kisah Juwairiyah dan Safiyah sepatutnya diikuti oleh para muslim?
Jika ada menyetujuinya maka para muslim seharusnya menyerang rumah-rumah non-muslim, membunuh mereka dan memperkosa istri2 mereka. Jika anda berkata TIDAK dan tindakan Muhamad pada jaman tersebut tidak dapat diterapkan pada peradaban sekarang, maka semua ayat yang mengatakan bahwa kita harus mengikuti contoh Muhammad menjadi tidak berarti.

Yang menjadi masalah adalah bahwa orang2 muslim tidak konsisten. Apakah kita harus mengikuti contohnya apa tidak? Apakah ia memberi contoh yang baik untuk kemanusiaan untuk diikuti atau tidak?

Muhamad bukan hanya figur sejarah. Washington mungkin meniduri budaknya. Pada jaman tersebut mungkin tindakan itu dianggap biasa, namun tidak ada orang yang mengatakan bahwa tindakannya merupakan contoh yang harus diikuti UNTUK SEGALA JAMAN DAN UNTUK SEMUA BANGSA !

---------------------------------------------------------------------- ---------------

KESIMPULAN JAKSA
Pertama, Muhamad BUKAN contoh baik yang harus diikuti. Kedua; ayat Quran yang menyatakan contohnya harus diikuti atau ia nabi segala
jaman adalah palsu. Oleh karena itu, ini menyebabkan seluruh isi Quran tidak dapat diandalkan keasliannya dan oleh sebab itu tidak mungkin berasal dari Tuhan (!!!).

Kenapa kebanyakan muslim tidak mengikuti contoh yang diberikan Muhamad walaupun ia menyuruh begitu? Apakah sekarang standar moral muslim lebih tinggi dari Muhamad? Mengapa kita harus mengikuti orang yang standar moralnya lebih rendah dari kita?

Syukurlah kebanyakan muslim tidak mengikuti contoh Muhamad, walaupun memang ada yang benar2 mengikutinya. Osama bin Laden adalah contohnya, bayangkan apa yang terjadi jika lebih banyak lagi muslim sepertinya dan menjadi muslim yang sebenarnya.

Muslim yang tidak mengikuti contoh Muhamad adalah muslim yang tidak taat. Muslim yang taat berbuat banyak hal yang membawa bencana dan perbuatan setan lainnya. Semakin seorang muslim megikuti Quran, semakin berbahaya tidakannya terhadap kemanusiaan. Bukankah ini membuktikan bahwa Islam itu ajaran SETAN Twisted Evil ?

Jika ajaran agama saya menyuruh untuk memerangi tetangga, membunuh, memperbudak, memperkosa, memukul istrinya atau
sebanyak mungkin tawanan ... mengapa saya tidak boleh melakukannya ? Mengapa anda kemudian mengatakan agar kita menggunakan akal kita sendiri dalam menentukan perbuatan yang kita anggap baik untuk diikuti. Apakah Tuhan mempermainkan kita?
Saya menyerahkan pada pembaca untuk menilainya.


KESIMPULAN AKHIRRRRR (bikin marah translator !)

Kegiatan seksual yang tak diinginkan sama saja dengan PEMERKOSAAN. Dapatkah anda menjelaskan bagaimana caranya budak tahanan wanita yang kebebasannya telah direnggut secara paksa DAPAT MENOLAK HUBUNGAN SEKSUAL ? (AYO JAWAB ! BANGSAT ! ali5196 )

Jaksa mohon diri untuk sementara.

Ali Sina


END OF PART III

Posted by ahmad at 18:53:23 | Permanent Link | Comments (3) |